This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, 29 June 2020

RESENSI BUKU: KISAH SANG PENANDAI

Judul Buku: Kisah Sang Penandai
Penulis: Tere Liye
Tahun Terbit: Cetakan III, 2013
Penerbit: Mahaka Publisihing
Jumlah Halaman: 295

Buku Fiksi Novel karya Tere Liye ini cukup unik, mengisahkan seorang pemuda bernama Jim dengan latar belakang tempat di Eropa Utara dengan unsur dongeng kerajaan pada zaman dahulu yang dibumbui dengan rasa kekinian. Diawal cerita kita langsung dibawa dengan rasa sedih dari seorang Jim yang memiliki kekasih yang bernama Nayla, seorang anak raja dari negeri seberang anak benua. Berbanding terbalik dengan Jim yang merupakan pemuda dengan latar belakang anak yatim piatu, dibesarkan tanpa kehadiran orang tua, kehidupan serba kekurangan, tetapi memiliki keahlian dalam membawakan biola sehingga kenal dengan orang-orang di Kota tersebut. Jim tidak bisa membaca dan menulis, berpendidikan rendah tetapi cintanya gayung bersambut dengan Nayla. Urusan menjadi pelik ketika Nayla harus dijodohkan dengan saudara kerajaannya sedangkan Jim tidak berani aka pengecut untuk bertemu dengan Nayla untuk membawa kabur dari kerajaannya. Semuanya akhirnya berakhir menjadi kesedian ketika Nayla memutuskan untuk meneguk racun dan meninggalkan pesan untuk Jim.

Darisana Jim bertemu dengan seorang yang aneh yang dipanggil Sang Penandai. Jim diarahkan untuk move on dari kondisinya yang sedih melihat Nayla-nya meninggal dengan mengenaskan untuk menjadi bagian dari anak buah kapal Pedang Langit yang akan berlayar ke Benua di daerah selatan melakukan ekspedisi untuk menemukan Tanah Harapan yang belum pernah disinggahi oleh orang Eropa manapun. Singkat cerita Jim menjadi sosok yang kuat, bijaksana, pintar dan memiliki karir yang cepat menjadi wakil Kapten di Kapal Pedang Langit walaupun sesekali dia sedih dengan Nayla-nya. Seluruh kesedihan yang dia rasa, mampu dia rubah menjadi energi positif untuk terus lebih baik dan sambil terus berharap akan mendapatkan penghidupan lebih baik, terutama bertemu dengan cinta sejatinya. Dengan keyakinan bahwa Nayla adalah cinta sejatinya akhirnya kejaiban pun datang, bahwa Nayla belum meninggal dan mereka bertemu di Tanah Harapan untuk membangun kota di Tanah Harapan.

Plot khas dari Tere Liye yang mampu cerita begitu hidup dengan nilai-nilai kehidupan aka hikmah kehidupan yang bisa kita ambil dari setiap kejadian dalam cerita tersebut. Beberapa quotes yang bisa dijadikan tuntuntan untuk kita adalah " Cinta adalah kata kerja, ia membutuhkan actions bukan hanya masalah feelings". Lalu "Pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya".

Pada akhirnya adalah kita semua memiliki cinta sejati dan alur kehidupan masing-masing yang berbeda, hanya kita perlu yakin dengan takdir dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT) atas apa yang terjadi dengan setiap waktu kehidupan dalam menempuh cinta sejati sampai mati. Balasannya dari kepercayaan tersebut adalah kita akan mendapatkan keajaiban-keajaiban diluar nalar.

Novel ini cocok untuk remaja atau orang tua yang sedang mengalami kehilangan cinta sejatinya, sehingga akhirnya disadarkan bahwa cinta sejati akan didapatkan dengan perjuangan dan ilmu yang dibarengi dengan ibadah kepada Allah SWT dengan sepenuh hati.

Tuesday, 2 June 2020

Dampak Faktor Kepercayaan Terhadap Kepemimpinan

Dampak Faktor Kepercayaan Terhadap Kepemimpinan 
1. Munculnya Kepercayaan. Percaya adalah suatu perasaan bukan suatu pengalaman rasional. Kepercayaan tidak muncul dari alasan rasional mengapa kita harus bekerja atau karena seorang eksekutif menjanjikan perubahan. Kita bisa saja mempercayai orang atau perusahaan ketika kondisinya tidak berjalan dengan baik, dan tidak mempercayai orang walaupun pekerjaan berjalan dengan baik. Kepercayaan mulai muncul ketika memiliki perasaan bahwa orang atau perusahaan digerakkan oleh hal-hal selain keuntungan-diri. Bersama dengan kepercayaan akan muncul nilai-nilai riil, bukan nilai yang disetarakan dengan uang. Nilai ini adalah pengubah kepercayaan. Ada banyak eksekutif berbakat yang memiliki kemampuan untuk mengelola operasional perusahaan, tetapi kepemimpinan hebat tidak selalu didasarkan pada kemampuan operasional hebat. Memimpin tidaklah sama dengan menjadi pemimpin. Menjadi pemimpin berarti kita memegang jabatan dengan motif dari upaya kita sendiri, keberuntungan, atau bersiasat di politik internal. Tetapi memimpin berarti orang bersedia mengikuti kita bukan karena posisi, wajib menghormati, atau karena dibayar untuk melakukannya tetapi karena mereka ingin melakukannya. Membangun sebuah tim yang solid dan kuat berarti lebih dari sekedar pidato muluk dan bonus besar. Jika ingin membangun sukses yang nyata dan langgeng, setiap orang harus dimenangkan, bukan untuk perusahaan, bukan untuk stakeholder tetapi untuk diri kita sendiri. 
2. Budaya Perusahaan. Ukuran dan kekuatan saja tidak menjamin untuk sukses, tetapi karena kemampuan untuk membentuk suatu budaya. Budaya adalah kelompok orang yang berkumpul dalam satu kesamaan nilai dan kepercayaan. Ketika sudah memiliki kesamaan nilai dan kepercayaan dengan orang lain, maka akan terbentuk kepercayaan. Kita akan lebih sukses di budaya yang cocok bagi kita yang mencerminkan nilai dan kepercayaan kita. Yang menyatukan suatu organisasi/perusahaan bukanlah produk atau jasa tetapi budaya nilai-nilai dan kepercayaan kuat yang dimiliki oleh semua orang mulai dari pimpinan tingkat atasan sampai ke tingkat paling bawah. Jadi logikanya, tujuan perusahaan bukanlah mempekerjakan orang yang sekedar memiliki keterampilan yang dibutuhkan tetapi mempekerjakan orang yang mempercayai apa yang perusahaan percayai. 
3. Menemukan Orang Yang Tepat. Perusahaan hebat tidaklah mempekerjakan orang yang terampil dan termotivasi, perusahaan mempekerjakan orang yang sudah termotivasi dan terinspirasi oleh budaya perusahaan karena setelah itu ditetapkan barulah kemudian keterampilan dan pengalaman yang diperhitungkan. Orang akan termotivasi atau tidak termotivasi. Jika perusahaan tidak memberi sesuatu untuk dipercayai oleh orang yang telah termotivasi, maka mereka akan memotivasi dirinya sendiri untuk mencari pekerjaan baru dan perusahaan terpaksa menerima yang tersisa. Perusahaan yang memiliki pemahaman yang kuat tentang "WHY" nya akan bisa menginspirasi pegawainya. Para pegawai akan lebih produktif dan inovatif, serta perasaan yang dibawa kedalam pekerjaan akan menarik orang lain untuk juga ingin bekerja disana. Didalam perusahaan seperti ini, mulai dari manajemen atas sampai tingkat bawah tidak ada yang merasa dirinya lebih tinggi atau lebih rendah dari satu sama lain. Mereka semua saling membutuhkan. 
4. DNA Sukses. Peran seorang pemimpin bukanlah memunculkan semua ide besar, tetapi menciptakan suatu lingkungan dimana ide-ide besar bisa terjadi. Pegawai yang berada dalam perusahaan mereka yang berada di garis terdepan yang paling bisa menemukan cara-cara baru dalam melakukan tugasnya lebih banyak daripada sekedar menjalankan tugas. Organisasi yang hebat menjadi hebat karena pegawai didalam organisasi itu merasa terlindungi. Rasa budaya yang kuat akan menciptakan rasa memiliki yang kuat dan ini bertindak sebagai jala pengaman. Pegawai datang kerja dengan mengetahui bahwa atasan, rekan kerja, dan organisasi secara keseluruhan akan menjaga mereka. Sehingga keputusan, upaya, dan perilaku pribadi dari pegawai akan bermanfaat dan melindungi kepentingan jangka panjang organisasi secara keseluruhan. 
4. Kepercayaan kasat mata. Pemimpin hebat mengerti bahwa kepercayaan dari suatu organisasi tidak didapatkan dengan cara mengesankan semua orang tetapi dari upaya melayani orang yang melayaninya. Kepercayaan yang tidak kasat matalah yang memberi pengikut kepada seorang pemimpin yang dia perlukan untuk menyelesaikan segalanya. Tanpa kepercayaan yang dikelola secara aktif, orang akan muncul untuk melakukan tugas sendiri-sendiri berdasarkan ego sehingga kepercayaan menipis dan dengan berjalannya waktu organisasi akan semakin melemah. 

Tuesday, 11 February 2020

MENTAL JUARA

Mental Juara diawali dari mental pembelajar (Learning Mental). Seorang Juara tidak dilahirkan dengan kebetulan dan keberuntungan. Juara adalah hasil dari proses yang panjang dan bertahap, tidak ada juara instan. Seorang juara adalah seorang yang mengatakan I have to win, bukan membuat aneka prasyarat panjang. Mental Juara akn terlihat dalam jangka panjang, track record berkali-kali menjadi seorang pemenang bukan sekali dua kali. Selain itu dari caranya merespon kegagalan akan terlihat apakah seseorang bermental juara atau tidak.

Kebalikan dari mental  juara adalah mental losers, mudah menyerah. Ciri dari seorang pecundang adalah melihat sesuatu hal sebagai ancaman bukan peluang serta melihat sesuatu dari kacamata kelemahan diri. Inilah yang menyebabkan seseorang tidak bisa maju dan terjebak dalam kehidupan yang membosankan serta mudah menyerah. Keterlambatan dalam mendefinisikan visi atau tujuan akan membuat kita memiliki mental losers, disamping dari hidup yang mengikuti arus.
Sejatinya setiap manusia adalah seorang pemenang, tetapi seiring berjalannya waktu dan adanya pengaruh dari lingkungan terdekatnya mental serta mindset-nya menjadi berubah, bisa positif atau negative. Menurut pakar HR sekaligus founder peopleshift (perusahaan konsultan SDM), Dr. Arief Munandar ada 5 lima formula yang disingklat 3P+R+L untuk menjadi seseorang yang bermental juara.

Proyeksi. Proyeksi adalah langkah awal kita untuk menentukan dimana kita akan bertarung dan berkompetisi. Syaratnya kita mampu mendefiniskan dengan jelas tujuan, mampu mengimajinasikan, serta mampu memposisikan diri kita sesuai dengan kapabilitas dan kelebihan yang dimiliki. Seorang yang memiliki mental juara tidak harus sama memproyeksikan dirinya dengan orang lain yang sudah sukses, just be your self, fokus pada diri sendiri. Selain itu dalam lingkungan tersebut kita mampu menjadi seorang yang specialist bukan generalis, karena dunia saat ini hanya membutuhkan orang-orang yang memiliki kemampuan special dan fokus pada hal-hal tertentu. Ada 3 tahapan untuk mengetahui proyeksi yang sesuai dengan diri kita, yaitu 1. Hal yang merupakan Passion, yang kita senang, suka rela, dan konsisten untuk melakukannya; 2. Kita memiliki bakat yang excellent pada hal tersebut serta; 3. Hal tersebut menjadi sarana menjadi economic engine pada hidup kita. Pada 3 hal diatas itu kita akan melakukannya proyeksi dengan totalitas.
Proteksi. Setelah kita mampu memproyeksikan diri kita dengan jelas, selanjutnya tugas kita adalah memproteksi diri kita dari gangguan eksternal. Gangguan eksternal bisa berupa godaan-godaan yang membuat kabur tujuan awal kita dikarenakan terbawa arus yang lagi ngetrend atau berupa peluang-peluang yang diri kita merasa bisa untuk masuk ke hal tersebut. Padahal andaikan saja kita mampu sukses untuk masuk ke peluang yang ada tetap saja kita akan kehilangan fokus dan spesialisasi dari branding diri kita dimata khalayak umum. Proteksi bisa dilakukan dengan cara membuat to do list serta to stop list agar kita fokus pada hal-hal yang menjadi concern kita, mengatakan tidak pada tawaran peluang diluar concern kita.
Prestasi. Hasil dari proyeksi dan proteksi yang berkesinambungan dan konsisten adalah prestasi. Prestasi ini tidak hanya kita dapatkan satu-dua kali tetapi berkali-kali kita dapatkan. Prestasi adalah bagian dari hasil perjalanan Panjang dari proyeksi dan proteksi, tidak instan, serta selalu mencari cara untuk lebih baik. Tidak harus disetiap kesempatan kita menang dan berprestasi, bisa jadi kita pernah kalah. Dari kekalahan tersebut kita mampu bangkit dan mengambil hikmah agar paham bahwa hal yang dilakukan tidak terjadi lagi dimasa depan yang disertai dengan mengubah cara untuk mencapai tujuan tersebut.
Reputasi. Kumpulan dari prestasi-prestasi yang kita dapatkan akan menjadi sebuah reputasi serta brand image bagi diri kita. Reputasi didapatkan dengan cara kita fokus pada suatu hal yang akhirnya kita berprestasi berkali-kali pada hal tersebut. Untuk mendapatkan reputasi yang baik dengan cara istiqomah pada prilaku dan ucapan yang konsisten, persisten, serta konsekuen.
Legacy. Selanjutnya reputasi kita akan menjadi legacy, semacam warisan peradaban bagi orang lain. Legacy menjadi penting karena dengan ini kita bisa memproyeksikan diri kita kedepan mau memberikan legacy seperti apa untuk peradaban. Ini akan menjadi amal jariyah bagi diri kita setelah kita meninggal apabila legacy yang kita tinggalkan menjadi bermanfaat untuk orang lain.

Sumber: 
https://www.youtube.com/watch?v=YLF2yT7sSbY 

Saturday, 20 May 2017

Krisis Uni Eropa

Krisis Uni Eropa 2008

Oleh : Arip Perbawa 

Hasil gambar untuk krisis uni eropa 2008
Krisis Uni Eropa 2008
Sebagaimana kita ketahui bahwa sekarang ini Negara-negara Eropa sedang dilanda bencana krisis keuangan. Negara yang pada satu dasawarasa ke belakang menguasau perekonomian dunia, sekarang ini seperti ‘macan ompong’ yang tidak mempunyai taji. Tingkat economic growth yang hanya rata-rata dibawah 1% kalah dengan beberapa Negara berkembang seperti Cina, India, Brazil dan Rusia bahkan dengan Indonesia. Ini diakibatkan dari krisis perbankan Uni Eropa dan krisis utang yang dialamai Negara Yunani yang hampir saja bangkrut bahkan hancur, apabila tidak ada bantuan dari Negara Eropa lainnya. Disinilah terlihat bahwa kesatuan Negara-negara yang berada diwilayah eropa sangat erat dan kuat. Mereka saling membantu antar satu Negara dengan Negara yang lainnya, subsidi silang dana pun terjadi. Berbeda dengan Negara-negara di Asia dan Timur Tengahm yang mana walaupun sebagian besar penduduknya adalah muslim namun rasa kebersamaan untuk membantu antar Negara yang satu dengan yang lainnya tidak nampak, malah yang terlihat adalah posisi saling sikut-menyikut dan ingin menjatuhkan.

Pada tahun 2007, sebenarnya perekonomian terkena krisis yang berdampak dari krisis ekonomi Amerika Serikat. Sejak saat itu sampai sekarang uni eropa belum bisa bangkit sepenuhnya dari krisis tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa krisis dari Negara Yunani ternyata memberikan dampak negative terhadap Negara-negara lainnya, ada Portugal, Perancis, Italia, irlandia bahkan Negara ekonomi terkuat seperti Jerman pun ikut kena imbasnya. Mereka mencari bantuan dari IMF untuk memberikan kucuran dana bail out sebesar €110 milyar untuk Yunani, €85 milyar untuk Irlandia,dan €78 milyar untuk Portugal. Ini menjadi pukulan yang telak bagi Negara Uni Eropa yang terkenal dengan hegemoni kekutan ekonomi abad 20 dan 21 ini.


Ini menjadi pertanyaan mendasar bahwa bagaimana mungkin Negara-negara yang berada di bawah naungan Uni Eropa yang terkenal dengan hegemoni ekonominya yang kuat bisa terkena Krisis ekonomi sebesar ini. Yunani kemungkinan merupakan buah dari kesalahan kebijakan pemerintahan di masalalu. Pada tahun 1974, Yunani memasuki babak baru pemerintahan, dari junta militer menjadi sosialis. Pemerintah baru ini kemudian mengambil banyak utang untuk membiayai subsidi, dana pensiun, gaji PNS, dll. Utang tersebut terus sajamenumpuk hingga pada tahun 1993, posisi utang Yunani sudah diatas GDP-nya, dansampai sekarang pun masih demikian. Saat ini utang Yunani diperkirakan telah mencapai 120% dari posisi GDP-nya, dimana banyak analis yang memperkirakan bahwa data yang sesungguhnya kemungkinan lebih besar dari itu.

Hingga awal  tahun 2000-an, tidak ada seorang pun yang memperhatikan fakta bahwa utang Yunani  sudah terlalu besar. Malah dari tahun 2000 hingga 2007, Yunani mencatat pertumbuhan ekonomi hingga 4.2% per tahun, yang merupakan angka tertinggi di zona Eropa, hasil dari membanjirnya modal asing ke negara tersebut. Keadaan berbalik ketika pasca krisis global 2008 dimana negara-negara lain mulai bangkit dari resesi, dua dari sektor ekonomi utama Yunani yaitu sektor pariwisata dan perkapalan, justru mencatat penurunan pendapatan hingga 15%. Orang-orang punmulai sadar bahwa mungkin ada yang salah dengan perekonomian Yunani.

Keadaan semakin memburuk ketika pada awal tahun 2010, diketahuibahwa Pemerintah Yunani telah membayar Goldman Sachs dan beberapa bank investasilainnya, untuk mengatur transaksi yang dapat menyembunyikan angka sesungguhnya dari jumlah utang pemerintah. Pemerintah Yunani juga diketahui telah mengutak-atik data-data statistik ekonomi makro, sehingga kondisi perekonomian mereka tampak baik-baik saja, padahal tidak. Pada Mei 2010, Yunani sekali lagi ketahuan telah mengalami defisit hingga 13.6%. Salah satu penyebab utama dari defisit tersebut adalah banyaknya kasus penggelapan pajak, yang diperkirakan telahmerugikan negara hingga US$ 20 milyar per tahun.

Dampak krisis uni eropa ini tidak sedikit berpengaruh terhadap Negara-negara lain yang berada belahan dunia yang lainnya. Termasuk Indonesia, ini terjadi walaupun tidak terlalu parah yaitu terhadap IHSG yang ketika itu anjlok besar-besaran dari posisi 2,971 ke posisi 2,514. Tetapi secara keseluruhan perekonomian Indonesia sampai saat ini masih “aman”, tingkat pertumbuhan ekonomi pun berada di 6,3% menurut Bank Indonesia. Kondisi ini pun harus tetap dijaga, pasar dalam negeri daya belinya harus ditingkatkan dan melakukan ekspansi ekspor ke Negara-negara yang belum terjamah seperti Amerika Latin. Kesempatan untuk menjadi kekuatan baru ekonomi dunia bagi Indonesia terbuka lebar. Pemerintah dan masyarakat harus melihat peluang ini  dan kita tetap harus optimis bahwa Indonesia bisa bangkit. 18 Juli 2012 @AP 

Friday, 16 August 2013

UN : ANTARA KARAKTER DAN PEMBODOHAN




Sudah hampir tiga minggu yang lalu, adik-adik SMA, SMP dan SD mengikuti Ujian Nasional (UN) yang diinisiasi oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan (kemendikbud) dan diselenggarakan di masing-masing sekolah. Santer diberitakan banyak sekali kejadian janggal terkait UN tahun ini (2013), dimulai kualitas lembar jawaban yang tidak layak, salah distribusi soal, keterlambatan distribusi soal dan ada dugaan korupsi dalam pengadaan soal UN tahun ini. Tidak dipungkiri bahwa UN menjadi pemicu semangat siswa untuk belajar lebih giat lagi di sekolah, bahkan hampir setiap sekolah mengadakan pengayaan bagi siswa tahun terkahir di masing-masing tingkatan yang akan mengikuti UN. Biasanya kegiatan pengayaan menjadi peluang sekolah untuk ‘berbisnis’ dengan meminta tambahan uang kepada para siswa yang mengikuti pengayaan karena program pengayaan diadakan diluar jam pelajaran kelas. Memang akan sangat tendensius ketika sekolah dikatakan ‘berbisnis’ program pengayaan tetapi yang terjadi adalah begitu adanya.
Tidak hanya siswa yang akan mengikuti UN saja yang khawatir tetapi orang tua, pihak sekolah dan sebagian tokoh masyarakat menjadi cemas. Dengan adanya kekhawatiran tersebut maka tidak heran apabila banyak orang tua siswa yang harus merogoh kocek untuk membiayai anaknya untuk ikut bimbingan belajar di lembaga bimbingan tertentu ataupun untuk mengikuti pengayaan di sekolah. Malah kekhawatiran yang berlebihan ini, akan membuat gelap mata orang tua untuk melakukan apa saja demi anaknya lulus UN. Tindakan positifnya orang tua mendoakan anaknya agar lulus UN, karena dengan seperti itu anak-anak akan termotivasi secara spiritual. Tidak mau ketinggalan, pihak sekolah pun mengadakan acara doa bersama untuk kelulusan. Sayangnya kegiatan seperti hanya incidental saja, tidak menjadi kebiasaan (behavior) yang dilakukan sehari-hari.
Bagi siswa, dengan adanya UN, sisi positifnya mereka akan beajar lebih giat, ikut bimbingan belajar (bimbel) ataupun ikut pengayaan di sekolah. Mereka rela mengorbankan apa saja demi lulus UN. Selain itu, mereka akan menjadi giat untuk beribadah dan berbuat baik. Mulai dari Saum senin-kamis, shalat dhuha, shalat tahajud, infaq dll. Sebagian siswa sadar bahwa tidak hanya kesiapan inetelektual saja tetapi kesiapan spiritual dan emosional juga menjadi penting.
Persiapan sudah dilakukan, tetapi dalam pelaksanaan UN, ketika terjadi kekhawatiran yang mencekam dan ketidak percayaan diri menjawab serta melihat lingkungan yang mendukung untuk melakukan kecurangan maka yang terjadi adalah kegiatan plagiat. Kita tidak bisa menutup mata, ketika pelaksanaan UN pihak sekolah biasanya punya ‘rencana strategi’ untuk membagi-bagi jawaban UN. Siswa yang tadinya secara mental dan moral siap untuk menghadapi UN secara jujur dan bersih serta menikmati proses belajar menghadapi UN menjadi ragu dan berpikir instan untuk mendapatkan jawaban UN tanpa berpikir. Maka sia-sia lah proses persiapan yang tadi dilakukan untuk menghadapi UN. Proses belajar yang seharusnya tidak mengenal plagiat/nyontek dan instan hanya menjadi teori saja. Pola pikir siswa pun menjadi pola pikir yang serba cepat tanpa harus bekerja keras. Ini merupakan karakter yang berbahaya. Bukan lagi masalah lulus UN atau tidak tapi ini akan menjadi karakter yang mendarah daging yang akan berdampak bagi masyarakat secara umum di Indonesia. Maka tidak heran apabila sekarang ini, banyak pola pikir pejabat di negeri ini yang instan tanpa mau bekerja keras, salah satu contoh nyata kegiatan tersebut adalah tindakan korupsi.
Kedepan, saya berharap perlunya evaluasi terkait UN yang dilaksanakan. Kita harus menyadari bahwa UN tidak hanya terkait lulus atau tidak tetapi menyangkut masalah karakter bangsa. Ketika karatkter bangsa kita menjadi instan dan tidak mau bekerja keras, maka mau seperti apa wajah bangsa Indonesia kedepannya?? (AP)

Ramadhan : Ajang Transformasi Diri




Ramadhan merupakan bulan suci penuh keberkahan, rahmat serta ampunan dari Allah. Selain memerintah shaum, dalam menyambut menjelang bulan Ramadhan, Rasulullah selalu memberikan beberapa nasehat dan pesan-pesan. Inilah ‘azimat’ Nabi tatkala memasuki Ramadhan. Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama. Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amal kita diterima dan doa-doa kita diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabb dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbing kita untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
Namun sayangnya sambutan datangnya bulan Ramadhan ini dimaknai berbeda oleh berbagai kalangan masyarakat baik ustaz, pedagang, politikus, bahkan sampai ke kalangan pelawak dan artis. Bulan Ramadhan di Indonesia dan negara dengan penduduk mayoritas Islam pada umumnya dapat dihubungkan dengan meningkatnya daya beli dan perilaku konsumtif masyarakat akan barang dan jasa.
Bagi sebagian ustadz mungkin ini dianggap sebagai ajang “bisnis dakwah”, dimana mereka bisa menghasilkan uang selama ramadhan dengan mengisi berbagai pengajian dari satu mesjid ke mesjid yang lain. Bagi pedagang pun ini merupakan bulan berkah karena bisa meraih penghasilan yang lebih tinggi, omzet yang melonjak dibandingkan hari-hari lain diluar Ramadhan. Seperti meningkatnya pemesan kubah masjid, karpet salat, dan lain-lain yang dipesan dalam rangka memasuki bulan Ramadhan. Fenomena ini secara kasat mata terlihat dengan menjamurnya para pedagang musiman yang menjajakan berbagai komoditas mulai dari makanan hingga pakaian, di ruang-ruang publik terutama di pinggir jalanan. Di samping juga maraknya penyelenggaraan bazaar baik yang disponsori oleh pemerintah, swasta, organisasi tertentu maupun swadaya masyarakat. Beberapa politikus pun tidak tinggal diam memanfaatkan momen seperti ini. Ramadhan dimanfaatkan sekelompok politikus untuk membangun imej di tengah masyarakat. Ada yang memakai momen ucapan selamat berbuka puasa dari salah satu partai plus audio visual penyantunan anak yatim, ada pula yang memakai pesan- pesan 'jitu' agar pemirsa tahu, mau, dan mampu bersama-sama menjadi bagian dari partai di iklan televisi itu. Alhasil, selain berlomba-lomba meraih pahala, momen Ramadhan juga dijadikan ajang membentuk citra diri sebuah lembaga agar dikenal luas oleh khalayak. Disamping itu menjelang bulan Ramadhan, media pun tidak mau ketinggalan menyuguhkan berbagai acara Ramadhan. Yang paling banyak ialah sinetron Ramadhan atau yang dikenal dengan sinetron religius dan acara lawak menjelang buka dan sahur dengan mengontrak para aktor-aktor atau pelawak-pelawak terkenal. Mereka sengaja menayangkan sinetron semacam ini untuk membidik umat Islam yang ruhiahnya sedang meningkat. Hal ini selain menguntungkan para artis dan pelawak dengan bayaran yang tinggi, juga menguntungkan media yang menayangkan acara tersebut
Yang menjadi pertanyaan mendasar ialah apakah puasa Ramadhan ini hanya akan dimaknai sekedar memuaskan hawa nafsu semata dengan keuntungan-keuntungan duniawi? Apakah amal-amal dalam puasa dilakukan dengan sepenuh hati keihklasan mengharap ridho Allah sebagaimana yang dipesankan oleh Rasulallah dalam setiap menyambut bulan Ramadhan? Inilah yang dinamakan puasa untuk mengontrol diri, baik ketika menjadi ustaz, pemimpin, politikus, pedagang, artis, pelawak maupun ulama dan masyarakat. Bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan (syahru at tarbiyah) oleh karena itu Ramadhan ini diharapkan sebagai barometer mengukur keshalihan individu dan kesalehan sosial.
Ramadhan kita jadikan untuk bertransformasi diri, menuju seorang pribadi yang lebih baik. Puasa sendiri telah memberi kita sebuah pilihan untuk menjadi seseorang dengan level terbaik (muttaqin), dengan catatan ia mampu memanfaatkan momentum yang ada.
Ramadhan dapat difungsikan sebagai bulan perenungan terhadap aktivitas kita. Dengan Ramadhan, sejenak kita melakukan renungan atas orientasi hidup. Tujuan-tujuan, serta cita-cita yang akan kita capai selama hidup. Ramadhan adalah bulan pelatihan dan perancangan kehidupan, sebagai bekal untuk menempuh sebelas bulan ke depan. Awal dari transformasi diri, jika kita pandang dari sudut pandang agama, adalah memulai dari pertanyaan, “Sudah benarkah keyakinan terhadap Allah yang selama ini kita pegang teguh”? Islam menempatkan ketauhidan yang benar sebagai fondasi dari keberagamaan, dan fondasi dari perbaikan diri.
Tauhid tidak hanya meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, sebagaimana diucapkan dalam syahadat, tetapi juga mengambil konsekuensi dari ucapan tersebut. Ketika kita yakin dengan Allah, kita pun harus pula mentransformasikan keyakinan kita kepada Allah tersebut dalam segenap aktivitas sosial kita. Inilah yang dimaksud oleh Prof. Dr. Amien Rais sebagai “tauhid sosial”, transformasi tauhid dalam konteks sosial-politik.
Dalam aktivitas bermasyarakat, keyakinan kepada Allah dan Rasulullah akan membuat kita meneladani perilaku Rasulullah, sahabat, dan salafush-shalih dalam kehidupan sosial kita. Sehingga, perilaku kita akan lebih terkontrol dan mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat dengan akhlak yang baik. Bulan Ramadhan akan memberikan pendidikan kontrol diri kepada kita.
Oleh karena itu, sudah seharusnya kita menjadikan Ramadhan ini sebagai ajang transformasi diri dengan terus berintrospeksi dan melakukan perbaikan. Allah telah menjadikan Ramadhan sebagai sebuah tantangan bagi kita dalam memerangi nafsu dengan puasa di siang hari dan ibadah di malam hari. (AP)

Friday, 14 June 2013

Sebuah Renungan : Belajar Ilmu Manajemen Bagi Masa Depan Saya

Seperti apa saya besok, lusa, 1 minggu lagi, 1 bulan lagi, 1 tahun lagi, 1 windu lagi, 1 dasa warsa lagi? Pertanyaan tersebut akan menjadi lebih panjang lagi jika jamu awet muda benar-benar ampuh mempengaruhi isi pikiran Anda. Sesungguhnya pertanyaan sederhananya adalah: BAGAIMANA SAYA DI MASA DEPAN?
Rentetan pertanyaan di atas merupakan, pengalaman pribadi yang sangat membekas pada diri saya. Sembilan belas tahun yang lalu saya tidak pernah membayangkan akan menjadi seperti sekarang. Yang saya tahu saat itu adalah saya di antar ibu untuk masuk sekolah pertama kali di Sekolah Dasar Negeri 1 Kawali . Saya berkenalan dengan teman-teman baru dan orang-orang baru. Tidak lupa juga disertai bayang-bayang takut di "res" -dihukum- guru seperti yang diceritakan kakak-kakakku. Demikian selanjutnya sampai saya belajar dan masuk perguruan tinggi yang merupakan salahsatu perguruan tinggi negeri terkenal se-Indonesia yaitu Universitas Padjadjaran (UNPAD) tepatnya saya masuk program studi Manajemen (S1) di Fakultas Ekonomi.
Tidak pernah terbayangkan juga sebelumnya, bahwa nilai-nilai sekolah pada waktu itu berpengaruh terhadap karir dan kesempatan sekarang. Yang paling mengesalkan adalah nilai  ketika saya masih sekolah dasar (elementary  school) ternyata telah menggagalkan berkali-kali peluang saya untuk mendapatkan juara 1 di kelas, padahal pada saat itu saya sudah belajar dengan sungguh-sungguh dan mungkin Allah SWT belum mengijinkan saya untuk menjadi juara 1. Bukan salah siapa-siapa, semua itu terjadi karena saya tidak dapat me- manage masa depan saya. Ya memang pada saat itu saya belum mengerti ilmu manajemen dan belum mengerti bagaimana saya bisa mencari strategi yang tepat untuk menjadi seorang pemenang. Saya tidak pernah menyadari bahwa nilai yang saya peroleh pada waktu itu, -yang menurut saya sudah cukup tinggi- , ternyata hanya seperti sampah pada saat ini, karena tidak dapat diandalkan untuk berkompetisi.
Itulah yang saya maksudkan, tidak ada orang yang mengetahui masa depan seperti apakah yang akan terjadi. Tetapi yang penting adalah masa depan itu selalu berkaitan dengan masa sekarang. Oleh karena itu sebaiknya kita capai setinggi-tingginya standar yang ada saat ini agar kita tidak menyesal di waktu yang akan datang.
Manajemen masa depan dimulai dari sekarang. Mulailah dengan memancangkan visi setinggi-tingginya. Selanjutnya tetapkan misi dan tujuan jangka pendek. Lalu ambil keputusan untuk melangkah dengan tanpa ragu. Pencanangan visi sebaiknya memperhatikan situasi dan kecenderungan yang terjadi sekarang, karena jika tidak, semua yang kita rencanakan akan meleset jauh.
Sebagai contoh, tren sekolah menengah (senior high school)  di Indonesia beberapa tahun yang lalu adalah program akselerasi. Untuk menempuh waktu 3 tahun di SMA bisa dipercepat hanya menjadi 2 tahun. Jadi jika Anda memilih sekolah menengah, pilihlah sekolah yang mendukung tren tersebut. Karena dengan masuk dan ikut ke program tersebut bisa mengefektifkan dan mengefisienkan waktu belajar dengan cepat di tingkat sekolah menengah. Begitupun di tingkat perguruan tinggi khususnya di program  strata 1 (S1), waku tempuh yang biasanya 5 tahun bisa dipercepat menjadi 3 tahun. Disini ilmu manajemen sangat berpengaruh untuk bisa menempuh waktu 3 tahun menjadi seorang sarjana. Terutama yang penting adalah me-manage waktu belajar dan mencari strategi belajar yang sesuai dengan keadaan individu masing-masing. Apalagi jika Anda bisa belajar dengan benar dan masih bisa aktif berorganisasi dikampus. Karena implementasi dari ilmu manajemen adalah ikut dan aktif disuatu organisasi. Anda bisa tahu ilmu praktisnya, misalnya bagaimana tugas dari seorang ketua, apa saja jobdesc-nya, bagaimana dia mengatur waktunya anatara belajar dikelas dan aktif di organisasi dan lainj sebagainya. Terkadang dengan Anda masuk suatu organisasi, kita bisa mendapatkan ilmu manajemen yang tidak dipelajari dikelas.
Manfaat pengelolaan dan perencanaan yang efektif, yakni : pengembangan diri – dengan melakukan perencanaan yang efektif, maka seseorang akan mampu menyisakan waktu luang yang berharga untuk menyusun pengembangan diri guna peningkatan kinerjanya, pekerjaan tuntas dan selesai tepat waktu sehingga pekerjaan tidak menumpuk; dan tidak mesti melakukan lembur guna menuntaskan pekerjaan, dan pekerjaan dapat ditata dengan rapi, dan akan memudahkan proses mengorganisasikan dan mengendalikan pekerjaan lainnya.
Ada empat zona waktu yang berbeda-beda. Zona satu: Saya lebih suka kehidupan yang tenang, bebas dari banyak tekanan. Saya suka bekerja dengan cara saya sendiri dan tetap santai menghadapi deadline.Menurut saya, jika ada hal yang tidak terselesaikan tepat pada waktunya, apakah itu betul-betul bermasalah? Saya jarang datang tepat waktu. Zona dua: Kesenangan saya yang terbesar adalah bersosialisasi, makan malam bersama teman kantor di luar atau menghadiri pesta. Saya sering bertindak menurut kata hati dan tidak cukup memikirkan konsekuensinya. Saya jauh lebih cepat bertindak secara spontan daripada menurut rencana. Saya lebih menyukai pekerjaan yang memberikan banyak variasi, dan cepat memberikan hasil.
Zona tiga: Saya mengorganisir hidup saya dengan hati-hati dan lebih menyukai rutinitas. Saya sangat hati-hati dengan diet, berolah raga dengan teratur dan membeli asuransi kesehatan dan jiwa. Saya mempertimbangkan setiap tindakan yang akan saya lakukan. Zona empat: Saya menyukai pekerjaan dengan deadline ketat dan bangga dengan ketepatan waktu saya. Saya secara umum sangat teratur dan bekerja dengan baik di bawah tekanan. Saya mengakui kesulitan relax dan enjoy menghadapi berbagai tantangan. Saya cenderung menghadiri rapat tepat pada waktunya.
Artinya jika orang itu memilih zona waktu pertama, berarti orang itu cenderung memiliki tipe “present fatalistic”, atau mereka yang senantiasa santai dan suka menunda-nunda keputusan selama mungkin. Hambatan mereka menuju pengelolaan waktu yang lebih baik adalah ketidakmampuan untuk memulai dan tetap. Sementara jika zona dua yang dipilih, maka orang tersebut dianggap sebagai ‘present hedonistic’, karena mereka dimotivasi oleh kebutuhan akan penghargaan dan kesenangan yang bisa dengan cepat diperoleh. Hambatan mereka: tidak suka merencanakan dan mengorganisir. Anda akan menunda hal yang mendesak tetapi tidak anda sukai, dan melakukan hal yang berprioritas rendah tetapi lebih menyenangkan.
Zona tiga menunjukkan sifat ‘future orientated’, karena mereka merencanakan sasaran jangka panjang baik karier maupun masalah pribadi. Sebenarnya Anda sudah mengelola diri dan waktu Anda secara efektif, tetapi masih memungkinkan untuk mengembangkan kemampuan Anda untuk bisa mengelola waktu lebih efisien. Sementara zona empat merupakan orang dengan tipe ‘time conscious’. Mereka menyukai bekerja dengan deadline dan tuntutan ketepatan waktu. Anda akan kesulitan menghadapi orang yang kurang tepat waktu atau orang yang tidak menunjukkan sense of urgency dalam memenuhi deadline.
Kemudiaan bagaimana mengelola waktu dengan efektif? Terdapat tiga jenis aktivitas, yakni: The Test of Necessity atau “Apakah hal itu perlu untuk dilakukan?” . Sebagai misal ketika kita bekerja, kita sering ngobrol hal diluar pekerjaan, atau juga main internet atau game komputer, atau sekedar baca koran. Pertanyaannya adalah : apakah semua hal ini perlu bagi keberhasilan pekerjaan saya, atau justru membuang waktu produktif saya? Jika jawabannya adalah bahwa semua aktivitas ini kurang bermanfaat, maka mestinya kita hilangkan atau kurangi.
The Test of Appropriateness atau “Apakah saya yang harus melakukan hal itu?”. Hal ini artinya adalah menanyakan apakah tugas-tugas yang dibebankan kepada kita memang benar-benar kita yang harus menjalankan atau sebaiknya orang lain saja yang lebih pas. Misal, pekerjaan memfotocopy : apakah memang kita sendiri yang harus melakukan. Atau pekerjaan lain yang mungkin orang lain – dari segi keahlian – lebih pas mengerjakan hal ini daripada kita.
Tes ini pada dasarnya menanyakan apakah kita memang yang benar-benar layak melakukan tugas itu ataukah mestinya orang lain saja; dan kita bisa menggunakan waktu kita untuk pekerjaan lain yang mungkin lebih pas dengan posisi dan tanggungjawab kita. The Test of Efficiency atau “Bagaimana saya dapat mengerjakan hal itu lebih baik?” Hal ini bermakna bahwa kita mesti mencari tahu apakah ada cara lain yang lebih efisien untuk menyelesaikan pekerjaan kita? Supaya waktu kita untuk mengerjakannya bisa lebih cepat namun tetap akurat.
Ada tiga tahapan prioritas, yang merupakan penerapan metode ABC, atau :
• Priority A – ‘Must do’
o Penting, harus dilakukan & segera
• Priority B – ‘Should do’
o Penting & harus dilakukan
• Priority C – ‘Nice to do’
o Dapat ditangguhkan pelaksanaannya
Jika kita lihat situasi sekarang, perusahaan-perusahaan di Indonesia membutuhkan lulusan yang mempunyai softskill yang bagus disamping hardskillnya juga. Karena ketika kita terjun ke dunia kerja salahsatu aspek yang paling penting adalah bagaimana kita berkomunikasi. Jelas sekali arah dunia kerja yang akan datang, bukan? Jadi visi dan misi kita sudah jelas. Menjadi manager yang compatible dengan misi awal lulus pendidikan setingkat S1 yang mempunyai softskill dan hardskill yang bagus dan dapat dipertanggungjawabkan.
Langkah selanjutnya adalah menentukan tujuan jangka pendek. Agar tetap dapat kompatibel dengan situasi di jaman berikutnya, kita harus menentukan standar-standar. Standar yang ada saat ini adalah, jika mahasiswa lolos dengan nilai baik (IPK lebih dari 3,50)  itulah yang dapat memulai berkompetisi di lapisan elit. Nah jika Anda hanya mendapatkan IPK di bawah itu, apa yang akan terjadi? Ya, Anda sudah kalah sebelum berperang. Diawal Anda harus bisa memprediksikan mau lulus dengan mendapat IPK berapa. Disini harus disesuaikan dengan kemampuan dan kerjakeras Anda. Anda boleh mempunyai visi lulus sarjana 3 tahun dengan mendapatkan IPK 3,95. Tapi, harus disesuaikan dengan effort yang Anda lakukan. Karena akan sia-sia visi tersebut apabila effort anda nol.
Selain nilai, kepribadian yang baik sangat dibutuhkan dalam profesi ini. Jika Anda ingin memperoleh klien dengan kualitas baik dan menjanjikan, sudah pasti Anda harus disukai mereka. Kepribadian yang baik, sangat mudah beradaptasi dan matang dalam pergaulan. Tetapkan diri Anda untuk memiliki kepribadian baik. Tolok ukur kepribadian, biasanya diamati dari etiket dan sopan santun dalam pergaulan. Latihlah diri Anda dengan baik untuk itu. Saya jamin, itu adalah pelatihan yang sangat menantang di jaman sekarang.
Langkah terakhir, menurut saya, adalah komitmen untuk profesional. Profesionalisme tidak akan pernah terbukti sebelum Anda mendapatkan klien yang banyak. Karena hanya klien yang dapat mengukur profesionalisme Anda. Jadi kalau Anda tidak pernah mendapatkan klien karena IPK atau kepribadian yang bermasalah, bagaimana dapat menjadi profesional? Setelah klien didapatkan, reevaluasi terus menerus terhadap kebutuhan adalah bagian dari komitmen untuk profesional. Tidak ada kata statis dalam pikiran kita. Terus maju dan berkembang sampai sudah habis kreativitas kita sebagai pelaku kehidupan.
Manajemen masa depan sangat dibutukan untuk siapa saja. Jika Anda menjadi manajer tanpa usaha manajemen yang telah saya sampaikan, bersiaplah untuk tertinggal di masa sekarang. Karena biasanya zona nyaman itu memabukkan. Anda akan mabuk dan akhirnya overdosis dan tidak tertolong lagi.
Yang muda yang masih memiliki kesempatan, jangan sia-siakan energi Anda. Jika seseorang "lebih tua" dari Anda memberikan kesempatan untuk membantu misi-misi Anda (Contoh: kesempatan memperoleh nilai bagus dengan tugas yang banyak) jangan pernah dikesampingkan. Sebab itu mungkin juga bagian dari faktor langkah anda di masa depan. Manajemen masa depan sangat dibutuhkan siapa saja, kapan saja di mana saja. Mulailah atur masa depan Anda mulai saat ini dimanpun berada. Allah SWT bersama kita semua. Jangan pernah berputus asa karena Anda tidak tahu akan keadaan Anda  esok hari dan masa depan, yang terpenting adalah Anda lakukan effort semaksimal mungkin, buat planning yang benar-benar matang,  buat strategi yang bisa membuat Anda menjadi seorang pemenang baik di dunia ataupun akhirat. (AP)

Monday, 4 March 2013

Resensi Buku Sukseskan Mudamu! Strategi Sukses 17 Mahasiswa Berprestasi Indonesia


Judul Buku            : Sukseskan Mudamu!, Strategi Sukses 17 Mahasiswa Berprestasi Indonesia
Penulis                  : M. Iffan Fanani & Muhammad Ichsan
Penerbit                 : Penerbit Rumah Pembelajar
Tahun                    : I, Oktober 2011
Tebal                     : 305 halaman

Buku ini menceritakan tentang 17 orang mahasiswa berprestasi yang berasal dari perguruan tinggi negeri terkenal di Indonesia. Maksud dari mahasiswa berprestasi disini bukan hanya mahasiswa yang mendapatkan IPK tinggi ketika lulus tetapi juga mahasiswa yang mampu memberikan pengaruh positif bagi lingkungannya dan masyarakat. Buku ini berisi resep-resep kesuksesan yang bisa dipraktekkan oleh siapapun. Mulai dari cara bagaimana mengatur waktu, menjadi mahasiswa berprestasi dan exchange ke luar negeri.
Diawal buku ini sudah disuguhkan seorang mahasiswa yang mendapatkan IPK cumlaude sempurna yaitu 4,00 dari skala 4. Dialah Muhammad Fajrin Rasyid, mahasiswa ITB Tekhnik Informatika STEI. Bayangan saya, langsung terbayang nilai ujian pada kartu kemjuan studi yang terpampang A semua tanpa ada nilai A- atau B. Prestasi yang sungguh luar biasa. Selain IPK nya yang tinggi Muhammad Fajrin juga aktif di organisasi dan program exchange ke Korea Selatan. Bagi para pembaca seolah menjadi kerdil ketika membaca buku ini, tapi jangan pesimis dulu karena kita akan menemukan jurus-jurus maut dari 17 mahasiswa berprestasi ini mengenai kesuksesan mereka. Dengan bahasan yang begitu mudah dipahami dan sederhana kita bisa menyerap dan mempraktekkan bagaimana mereka bisa sukses.
Buku ini mematahkan dan menjelaskan tentang beberapa mitos mahasiswa berpretasi, mulai dari pembuktian bahwa mahasiswa berprestasi bukan hanya berasal dari kota dan orang kaya tetapi orang yang miskin dan dari desa pun bisa menjadi mahasiswa berprestasi. Mahasiswa berprestasi juga  tidak hanya berasal dari SMA favorit tetapi juga berasal dari SMA yang biasa-biasa saja.
Ada enam kunci kesuksesan yang menjadi pegangan 17 mahasiswa berprestasi ini, yaitu : keyakinan, keberanian, keinginan, belajar, jaringan social dan kekuatan pendukung. Enam kunci kesuksesan ini bisa kita gunakan dan jadikan patokan bagi kita dalam meraih prestasi. Tidak ada kata menyerah dalam kamus orang sukses yang ada adalah mencoba dan terus bangkit dari kesalahan.
Buku ini disarankan bagi mahasiswa atau calon mahasiswa yang ingin mengukir prestasi dan sukses selama menjadi mahasiswa dan pasca kampus. Setelah membaca buku ini, seolah-olah kita di beri lecutan adrenalin sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berprestasi. Selamat berprestasi! 

Resensi Buku Sepotong Hati yang Baru




Judul         : Sepotong Hati yang Baru
Penulis       : Tere Liye
Penerbit     : Mahaka Publishing
Terbit         : Cetakan IV, Januari 2013, 206 Halaman
            Buku yang merupakan kumpulan cerita pendek yang menyajika kisah-kisah romantis tentang cinta. Novel Tere Liye yang satu ini adalah serial novel sebelumnya ‘Berjuta Rasanya’ yang berisi delapan cerita cinta yang isinya macam-macam, mulai dari kisah cinta yang berakhir bahagia, menggantung dan tragis sekalipun tapi selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya.
            Kelebihan novel ini karena Tere Liye selalu bisa merangkai kata indah yang memberikan pembelajaran tentang hidup melalui berbagai tulisanya yang tidak hanya membahas cinta. Gaya penulisan Tere-Liye yang mengalir dengan baik dan berhasil menggugah emosi. Kelebihan lain dari buku ini adalah buku ini tidak berbau agama, tapi dapat membuat pembaca ingin bersegera menjadi pribadi yang baik dan tulus. Dalam buku ini ada delapam kisah yang akan disajikan, kisah yang pertama, berjudul ‘Hiks, Kupikir Itu Sungguhan’. Dalam buku Berjuta Rasanya, pernah dituliskan kisah yang serupa, sebuah cerita cinta sederhana yang mungkin saja dapat terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Cerita ini dibawakan dengan ringan dan ceria, sesuai dengan karakternya yang berusia muda. Tema-nya mungkin bisa ditebak dari judulnya sendiri, yaitu tentang seorang gadis yang ‘merasa’ bahwa laki-laki yang ia sukai membalas perasaannya – padahal itu semua hanya perasaannya saja. Lewat kisah ini, orang-orang muda seolah ‘diperingatkan’ agar tidak hanya melihat apa yang ingin kita lihat – melainkan harus dengan mata terbuka lebar melihat kenyataan yang ada. Kisah ini memberi banyak makna bagi pembaca. Tere liye mampu membawa pembaca mengikuti setiap alur cerita dalam novel ini.
            Kisah berikutnya, ‘Kisah Sie Sie’, adalah sebuah kisah yang penuh emosi dan bisa jadi menyayat hati. Keluarga seorang gadis bernama Sie Sie sudah berada di ambang kehancuran, Ibunya sakit keras, Ayahnya masuk penjara karena ketahuan mencuri brankas, dan masih ada enam adik-adiknya yang harus dihidupi. Tanpa mempunyai pilihan lain, Sie Sie mengambil keputusan untuk menjadi istri belian. Kepada Ibunya, ia berjanji bahwa pernikahannya akan bahagia. Sie akan mencintai lelaki itu apa adanya dan sungguh ia menepati janjinya. Sie mencintai dengan tulus seorang lelaki yang memperlakukannya dengan rendah, sebuah cinta yang penuh dengan pengorbanan.
            Kisah selanjutnya”Percayakah Kau Padaku?” cerita ini mempunyai makna dan nilai moral yang begitu dalam. Karakter dalam cerita ini pernah ada di Berjuta Rasanya, dalam kisah yang berjudul “Kupu-Kupu Monarch”. Dalam kisah ke-tiga ini ada kisah legenda yang terselip di dalamnya, yaitu tentang kisah cinta Rama dan Shinta. Kisah yang diketahui orang banyak adalah bahwa Rama dan Shinta amat saling mencintai satu sama lain, dan Rama telah menyelamatkan kekasih hatinya dari sang raksasa, Rahwana. Akan tetapi kisah yang sesungguhnya baru dimulai sesudahnya, saat kepercayaan Rama pada istrinya diuji. Dan saat rasa percaya itu tidak lagi ada, rasa cinta sebesar apa pun sungguh tidak ada gunanya. Kisah ini dapat menyadarkan pembaca akan  pentingnya arti kepercayaan.
            Sedangkan kekurangan dari novel ini adalah pesan moral kadang kurang tertangkap dengan baik oleh pembaca, novel ini menceritakan tentang kisah cinta sehingga bagi pembaca yang kurang pandai menyaring nilai maka dapat berasumsi bahwa pacaran dan percintaan dengan lawan jenis diperboehkan. Kekurangan lainnya yaitu desain covernya yang kurang menarik perhatian, serta kertas yang digunakan untuk mencetak novel ini kualitasnya kurang baik.
            Novel ini cocok dibaca oleh para remaja yang sering merasa galau karena cinta, dari novel ini para remaja dapat belajar tentang cinta yang tulus, kepercayaan, dan kesabaran. Kesimpulannya, novel ini dapat memberikan banyak nilai moral yang baik bagi pembaca asalkan pembaca dapat menyaring dengan baik semua pesan yang ada.

Thursday, 7 February 2013

Peran Pemuda dalam Pemilu




Pemilihan Umum 2014 masih sekitar satu tahun lagi, namun hiruk pikuknya mulai terasa sangat gencar. Beberapa partai politik, baik yang baru didirikan maupun yang sudah lama ada akan bersaing untuk memperebutkan dukungan masyarakat, termasuk salah satunya pemuda. Hamper setiap kegiatan pemilu, peran pemuda cukup mendominasi, bahkan ada yang melampaui 90 persen dari keseluruhan masa yang hadir dalam kampanye. Ketika juru kampanye meneriakan yel ataupun jargon parpolnya, sambutan pemuda tampak begitu semarak sekali.
Tak dapat dipungkiri, dukungan pemuda dalam setiap pemilu tak pernah surut. Tidak saja di Indonesia, di setiap Negara manapun partisipasi pemuda dalam pemilu selalu dominan. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah animo pemuda terhadap politik ini dikarenakan hati nuraninya atau ada hal lain, seperti ikut-ikutan saja?
Sejak era sebelum kemerdekaan, pasca kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, sampai Orde Reformasi partisipasi pemuda dalam menyuarakan demokrasi itu tak diragukan lagi. Sumpah pemuda yang dikumandangkan 1928, proklamasi kemerdekaan 1945, dan reformasi 1998, menunjukkan bahwa peran pemuda dalam kebangkitan bangsa memang begitu dominan dan strategis. Ini dikarenakan pada masa ini (pemuda), punya kekuatan otot dan otak yang kuat. Kata kasarnya apapun bisa dilakukan oleh pemuda. Seperti kata Soekarno, berikan saya sepuluh orang pemuda, maka akan ku goncang dunia ini.
Pemilu merupakan ajang pesta demokrasi rakyat, digelar setiap lima tahun sekali. Tentu saja banyak pemuda yang untuk pertama-kalinya memiliki hak pilih. Lantas, ke Parpol manakah sebagian besar pemuda menyalurkan aspirasinya. Nah, hal inilah yang perlu digarap secara cermat oleh setiap Parpol. Jumlah suara pemuda itu puluhan juta, tentu saja diperlukan perlakuan khusus untuk mendekati kalangan pemuda.
Dalam massa kampanye yang berlangsung beberapa pekan, tentu saja setiap Parpol akan beradu jurus atau strategi untuk memperoleh dukungan pemuda. Ada yang memasang jurus klasik, umpamanya dengan penawaran program yang menyangkut kepentingan pemuda. Ada juga Parpol yang mendekati pemuda dengan menggunakan jurus yang berbau psikologis, artinya apa yang menjadi minat dan kecenderungan pemuda lantas disajikan selama masa kampanye. Tak heran menjelang Pemilu 2014 beragam kecanggihan teknologi informasi akan dimanfaatkan Parpol, misalnya situs jejaring social.
Karena pemuda cenderung lebih suka hiburan, hura-hura dan kumpul-kumpul, maka berbagai hiburan pun digelar, mulai dari menampilkan music rock, dangdut, pop, hingga berupaya menampilkan selebritis idola kaula muda. Beberapa selebritis yang berhasil masuk parlemen terutama karena dukungan pemuda.
Tak dapat dipungkiri, bahwa dengan cara menampilkan selebritis kesohor, dengan sendirinya jumlah masa kampanye akan membludak, terutama kalangan pemilih berusia muda. Bagi Parpol yang kantungnya tebal, upaya mendatangkan selebritis memang tidak sulit, berapapun honornya mampu membayarnya. Namun bagi Parpol dengan kantung pas-pasan memang cukup sulit untuk menampilkan artis dalam kegiatan kampanye, kecuali jika sang artis dengan suka rela dan ikhlas mendukungnya.
Sebagai gambaran yang menujukkan betapa efektifnya unsur hiburan dalam mengumpulkan massa, umpamanya pada Pemilu 1982 lalu, dalam suatu kampanye di Jakarta, sebuah Parpol bisa menghadirkan satu juta massa, terutama karena kehadiran Rhoma Irama beserta Grup Soneta yang saat itu mencapai puncak kejayaan. Sebagian besar dari massa yang hadir, tentu saja dari kalangan pemuda. Dalam Pemilu 2014 Parpol yang sanggup mendatangkan komedian Sule atau Tukul dalam kampanyenya sudah bisa diduga akan kebanjiran masa. Persoalannya apakah 2014 keduanya masih eksis, atau mungkin sudah tergeser selebritis lain.
Untuk meraih suara dan simpatik pemuda, maka tak heran jika para tokoh Parpol dan para jurkam yang sebenarnya sudah tak muda lagi kembali berpenampilan muda, bahkan dipanggung kampanye tak segan-segan untuk berjoget, bernyanyi dan berteriak-teriak histeris. Dalam arena kampanye memang para “koboy kolot” banyak bermunculan, tampak begitu dinamis dan sangat memikat penampilannya, bahkan tampak lebih muda dari para pemuda. Tentu saja para pemuda akan segera jatuh simpatik pada tokoh Parpol yang demikian.
Pemuda memang identik dengan gairah, semangat, demokrasi dan keterbukaan. Pemuda tak menyukai segala sesuatu yang loyo dan muluk-muluk, pemuda memang amat menyukai realita. Dengan demikian, salah satu “jurus” untuk meraih dukungan pemuda dalam Pemilu 2014 ialah dengan menawarkan keterbukaan, program yang tidak muluk-muluk serta realistis.
Dalam setiap acara kampanye, gairah pemuda seperti terbakar dan makin bergelora. Dalam setiap kampanye ketergantungan Parpol terhadap kalangan pemuda begitu tinggi, karena sebagian besar dari massa yang hadir memang para pemuda. Sudah sewajarkan keikutsertaan pemuda tidak disia-siakan, apalagi jika ditanamkan perasaan sentimen atau prasangka yang buruk terhadap Parpol lain, hingga dikhawatirkan menimbulkan perpecahan antar pemuda.
Kampanye harus dijadikan ajang untuk mendidik dan memberikan pengalaman bagi para pemuda, sama sekali bukan untuk memecah belah kekompakan pemuda. Selayaknya di antara Parpol terjadi kerjasama dan kekompakan, terutama untuk menggelar pesta demokrasi yang bersih, termasuk menumbuhkembangkan kesadaran berbangsa dan bernegara bagi kalangan pemuda. Jangan sampai peran pemuda dalam pemilu hanya ikut-ikutan saja. Untuk para politisi senior, berikanlah contoh terbaik bagi para pemuda. (AP)


Sunday, 7 October 2012

Ingat Sejarah, lupakan Tawuran!


Ingat Sejarah, lupakan Tawuran!
Arip Perbawa*

Rasanya sangat sedih ketika melihat fenomena yang terjadi di wajah pendidikan Indonesia sekarang. Banyak sekali permasalahan yang menyertainya, dan masalah yang paling memilukan dan mencoreng pendidikan kita adalah fenomena tawuran antar pelajar. Pelajar yang notabene adalah orang yang memiliki pendidikan dan terpelajar seharusnya tidak perlu melakukan tawuran dalam menyelsaikan masalah. Pelajar berbeda dengan preman, pelajar adalah orang yang seharusnya menyelsaikan dengan cara-cara yang lebih terdidik, bukan mengedepankan sikap kekerasan fisik.
Masalah tawuran antar pelajar merupakan masalah klasik dari pendidikan Indonesia. Dari dulu sampai sekarang masih saja terjadi tawuran. Yang menjadi pertanyaan penting adalah mengapa fenomena ini sering terjadi???Apakah ini adalah hal yang lumrah bagi bangsa ini???. Sungguh, ketika kita flashback dari sejarah bangsa ini, pelajar mempunyai peran yang sangat penting dalam merebut kemerdekaan. Para pelajar ikut serta berjuang melawan penjajah, tidak sedikit yang mengorbankan nyawanya demi kemerdekaan bangsa ini. Tapi, kita lihat sekarang, semangat perjuangan kemerdekaan para pelajar zaman ini jadi berganti dengan  semangat tawuran dibeberapa sekolah. Para pelajar zaman sekarang lalai dalam mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia, mereka lupa bahwa mereka mempunyai tugas untuk meneruskan perjuangan di negeri ini. Ibu pertiwi saat ini sedang bersedih, melihat kondisi para pelajar yang berkelakuan orang kurang ajar. Semangat mengisi kemerdekaan Indonesia perlu kembali dibangkitkan dimasing-masing benak para pelajar. Kita bukan bangsa yang ahli tawuran, kita adalah bangsa timur yang menjunjung tinggi semangat budaya ramah, sopan santun dan budaya timur lainnya.
Banyak faktor penyebab dari  fenomena tawuran antar pelajar saat ini. Dari mulai rasa setia kawan yang berlebihan dalam kelompok, jiwa premanisme dalam diri pelajar, dan budaya tawuran yang mengakar kuat secara turun temurun. Secara garis besar, ada dua concern yang mempengaruhi kehidupan pelajar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal lebih menitiberatkan mental , jiwa dan psikologis dari setiap pelajar itu sendiri. Mereka belajar internalisasi nilai-nilai dari lingkungan sekitar. Yang menjadi masalah adalah ketika proses internalisasi yang terjadi  adalah penanaman nilai yang salah dan negative , ini akan berdampak bagi kondisi kejiwaan seorang pelajar. Faktor eksternal, juga tidak kalah pentingnya mempunyai pengaruh yang signifikan. Lingkungan Keluarga, teman, dan  masyarakat berperan dalam membentuk karakter seorang pelajar.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang seharusnya mempersiapkan pelajar sebagai penerus bangsa ini lebih baik lagi dalam pengelolaannya. Pendidikan karakter harus diterapkan, tidak hanya kemampuan kognitif tetapi juga apektif. Para civitas akademika, pemerintah dan lembaga yang terkait, sudah seharusnya mengambil pelajaran dari masalah tawuran yang terjadi saat ini. Jangan sampai kejadian seperti ini menjadi karakter bangsa kita.
Kita harus menyadari bahwa kemerdekaan Indonesia tidak direbut dengan cara yang mudah, tetapi melalui perjuangan dan salah satunya adalah kelompok pelajar. Kita isi kemerdekaan bangsa ini dengan kegiatan yang positif, prestatif dan kontributif. Bagi para pelajar, masih banyak kegiatan positif yang bisa mereka gunakan untuk mengisi kekosongan waktu, bisa gabung dengan Kelompok ilmiah, organisasi siswa intra sekolah, dan eskul-eskul lainnya. Para pelajar harus menunjukan jati diri seorang yang terpelajar, terdidik, dan intelek dalam berpikir dan berbuat. Para pelajar harus mengharumkan nama Ibu Pertiwi dimata dunia. Soekarno pernah berkata, “Berikan aku sepuluh orang pemuda, maka akan kugoncang dunia”. Sudah saatnya pelajar Indonesia unjuk gigi pada dunia, bahwa kita bisa menjadi bangsa yang berprestasi dan berkarakter dan mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
*Manajemen - Universitas Padjadjara
Peserta PPDMS Reg 2 Bandung

Resensi Buku Pesan-Pesan Islam Rangkaian Kuliah Musim Semi 1953 di Cornell University Amerika Serikat

Judul Buku            : Pesan-Pesan Islam, Rangkain Kuliah Musm Semi 7953 di Cornell University Amerika Serikat
Penulis                  : Agus Salim
Penerbit                 : PT. Mizan Pustaka
Tahun                    : I, Mei 2011
Tebal                     : 389 halaman

Mashudul Haq (pembela kebenaran) atau yang biasa kita kenal dengan Hadji Agus Salim adalah salah satu tokoh pahlawan nasional yang terkenal sebagai penguasa Sembilan bahasa, yaitu : bahasa Jerman, Belanda, Perancis, Arab, Turki, Jepang, Inggris, Indonesia dan bahasa daerah.
Hadji Agus Salim dikenal banyak kalangan sebagai seorang yang memiliki intelektualitas luar biasa, yang kiprahnya tidak hanya di ranah domestik saja, melainkan sampai pada ranah publik internasional. Dengan kualitas Hadji Agus Salim yang serba bisa, ia aktif dan bisa berkiprah mendunia sebagai penerjemah, ahli sejarah, wartawan, sastrawan, diplomat praktisi pendidikan, filsuf dan ulama. Banyak cendikiawan luar negeri yang memujinya karena kemampuannya sebagai seorang jenius dalam bidang bahasa yang mampu menulis dan berbicara dalam banyak bahasa asing.
Dengan berbagai kemampuan yang dikuasainya itu, Hadji Agus Salim diundang sebagai guru besar tamu pada semester musim semi tahun 1953, untuk memberi suatu kursus kuliah tentang agama Islam, dan suatu seminar tentang Islam di Indonesia. Kedua tugas tersebut berjalan dengan lancar dan banyak menimbulkan minat di kalangan kaum mahasiswa. Selama musim semi itu (Januari-Juni), Hadji Agus Salim berhasil memberikan 31 kuliah, yang kesemuanya membicarakan masalah Islam—khususnya sejarah Nabi Muhammad. Semua kuliah Hadji Agus Salim ini kemudian berhasil dibukukan pada tahun 2011, dengan judul “Pesan-Pesan Islam: Rangkaian Kuliah Musim Semi 1935 di Cornel University Amerika Serikat” yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan Pustaka, Bandung
Melalui kuliah-kuliahnya ini, Hadji Agus Salim menjadi pelopor dalam mengenalkan Islam di Amerika Serikat (AS) sekaligus membangun dialog antar-peradaban dan iman. Dalam penyampaian kuliahnya itu, di tengah-tengah cerita tentang kisah Nabi Muhammad SAW, Hadji Agus Salim tidak jarang mengutip dan menggunakan cerita-cerita sejarah bangsa-bangsa Barat atau kejadian-kejadian dunia kontemporer. Hal inilah yang menjadi nilai lebih dari Hadji Agus Salim dalam setiap dakwahnya, mengingat kuliah itu disampaikan di depan orang-orang Barat, AS. Semua ini, kalau saya menilai, merupakan pengejewantahan dari hadis Nabi yang intinya; bahwa dakwah harus disampaikan dalam bahasa kaumnya. Dalam konteks buku ini adalah Barat (Eropa).
Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan catatan atau anotasi dari generasi penerusnya, Cut Aswar. Anotasi-anotasi tersebut terdiri dari empat hal; pertama, menerangkan lebih jauh apa yang dimaksud oleh Hadji Agus Salim. Kedua, mengomentari bahwa Hadji Agus Salim pernah membahasnya dalam bentuk senada atau berbeda. Ketiga, mengemukakan teks-teks yang lebih lengkap. Dan keempat, memberi catatan-catatan tentang kekeliruan Hadji Agus Salim dengan mengemukakan alasan-alasan rasional dan historis, yang juga dilengkapi dengan daftar pengambilannya, di mana pembaca bisa merujuk pada sumber aslinya.
Meski isi buku ini disampaikan Hadji Agus Salim pada puluhan tahun silam dan temanya berupa tema yang sudah dibahas banyak buku, namun isi buku ini berbeda dengan buku-buku sejarah Nabi (Muhammad) pada kebanyakan, di mana dalam buku ini ada sisi unik dan menarik yang disampaikan Hadji Agus Salim di dalamnya.
Sisi unik dan menarik yang saya maksud adalah Hadji Agus Salim berhasil berbicara sesuai dengan konteks dan lingkungan tempat penyampaian kuliah waktu itu (AS), yang masih relevan sampai saat ini. Dengan kata lain, Hadji Agus Salim dengan kepiawaiannya berhasil melampaui zamannya, sehingga membaca buku ini, pembaca tidak sekedar membaca gagasan “masa lalu”, namun pembaca juga akan merasakan “masa kini” di lembar-lembar halaman buku ini.
Meminjam istilahnya Anies Baswedan dalam pengantar buku ini (hal, xxxii), bahwa dalam penyampaian kuliahnya di Cornell University ini, Hadji Agus Salim berhasil menjahit masa lalu, masa kini, masa depan menjadi satu pakaian indah yang cocok dengan manusia zaman ini; hangat bagi mereka yang dicekam musim dingin Amerika Utara dan menyejukkan bagi mereka yang berpetualang di padang Arabia.
Tidak hanya itu, dalam buku ini, juga ada hal yang baru dan “menantang”. Dalam satu bagian misalnya, Hadji Agus Salim mencoba menafsiri arti “fardhu” dengan “bagian atau jatah”, bukan “wajib” (hal. 1). Logika dari penafsiran ini adalah, bahwasanya penunaian kewajiban itu bukanlah diperlukan bagi Tuhan, melainkan diperlukan bagi manusia. Untuk itu, jika kita ingin hidup beribadah, maka kita mutlak perlu untuk mematuhi suatu ketertiban, suatu disiplin tertentu. Karena itulah, fardhu adalah bagian atau jatah untuk manusia, yang dianugerahkan atau dikaruniakan Tuhan kepada manusia.
Di bagian lain, Hadji Agus Salim mengungkapkan pendapatnya masalah gender (hal. 308-318). Menurut Hadji Agus Salim, tidak ada aturan tegas dalam agama mengenai boleh tidaknya perempuan terjun dalam dunia publik. Untuk itu, menurutnya, perempuan juga punya peluang untuk menduduki posisi publik (presiden, menteri, gubernur, bupati/wali kota dan sejenisnya), asalkan urusan dapur (baca: rumah tangga) tidak terbengkalai (hal. 313).
Terakhir, buku ini cocok untuk dibaca oleh semua kalangan, baik mereka yang ingin lebih memperdalami sejarah dan ajaran agama (Islam) maupun mereka yang ingin mengetahui lebih banyak gagasan Hadji Agus Salim—khususnya tentang keislaman.

MASIH PENTINGKAH OSPEK????


MASIH PENTINGKAH OSPEK????
Oleh : Arip Perbawa*

Masih ingatkah kejadian Bullying yang terjadi di SMA Don Bosco yang baru-baru ini???Atau kejadian IPDN pada tahun 2003??? Itu adalah bagian dari masalah yang terjadi ketika proses masa orientasi/pengenalan pada suatu kampus atau sekolah. Pukulan, tendangan atau hukuman-hukuman fisik lainnya  menjadi ketakutan bahkan phobia bagi sebagian calon mahasiswa dalam mengikuti ospek. Opini yang beredar mengenai ospek selama ini sering adalah masa perploncoan untuk memasuki kampus.  Bahkan banyak orang tua dari mahasiswa baru yang meminta untuk ‘dihilangkan’ program ospek dikampus. Karena pada dasarnya ospek sudah dilarang ketika dengan dikeluarkannya SK Dirjen Dikti No.38/DIKTI/Kep 2000. Padahal apabila diamati secara cermat, antara ospek dan perploncoan mempunyai subjek yang berbeda. Ospek akan lebih mengenalkan sistem dunia perkampusan baru bagi mahasiswa baru, sedangkan perploncoan adalah proses yang terjadi dalam ospek itu sendiri, yang lebih identik dengan tindakan kekerasan baik berupa fisik, verbal  ataupun mental. Sehingga Apabila kita lihat, maka yang seharusnya dihilangkan adalah adalah proses perploncoannya itu bukan ospeknya.
Ospek atau orientasi pengenalan kampus merupakan kegiatan rutin yang diselanggarakan oleh pihak kampus yang bertujuan untuk mengenalkan mahasiswa baru pada system kampus, baik itu mengenai peraturan, kondisi dan suasana belajar. Sebenarnya ospek juga membantu mahasiswa baru untuk berinteraksi dengan civitas akademika yang ada dikampusnya, baik itu dosen, karyawan dan mahasiswa. Ketika seorang mahasiswa baru tidak mengikuti ospek, sebenarnya akan mengalami beberapa kerugian. Seperti akan sulit beradaptasi dengan lingkungan kampus, sulit untuk mengembangkan jaringan persahabatan, menganalisa lingkungan yang nyaman bahkan bisa ‘diasingkan’ oleh lingkungannya karena sulit untuk beradaptasi. Oleh karena itu, ospek adalah jalan pembuka bagi mahasiswa baru untuk menganalisa SWOT dirinya terhadap lingkungan kampus baru atau sebaliknya.
Bagi sebagian orang yang mendukung diadakannya ospek, karena merasa bahwa ospek itu berguna bagi mahasiswa baru, tetapi harus ada perubahan dalam wujud nyata dilapangan dan konsep prosesnya dan mengembalikan kembali fungsi awal dan dasar dari diadakannya ospek. Menurut filosofi dan konsepsinya ospek semula dirancang untuk memperkenalkan dan mengadaptasikan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru.
Walaupun pada masa sekarang sudah banyak lembaga mahasiswa di perguruan tinggi yang sudah berikrar untuk menghapuskan unsur perpeloncoan dalam kegiatan ospek, namun dalam implementasinya di lapangan masih banyak ditemukan adanya unsur perpeloncoan yang dilakukan oleh panitia ospek. Bahkan tidak hanya itu kontak fisik yang menjurus ke hilangnya nyawa seseorang pun masih terjadi tiap tahunnya dalam kegiatan ospek. Banyak faktor yang membuat ospek menjadi ajang kekerasan, seperti kurangnya controlling dari pihak rektorat/dekanat, ingin diakuinya eksistensi senior, ajang balas dendam senior, ataupun anggapan sebagai ‘adat turun temurun’ dari tahun-tahun sebelumnya yang harus dilestarikan. Masalah yang terjadi adalah senioritas. Pihak senior merasa bahwa hal-hal seperti tindakan fisik adalah hal yang perlu diberikan kepada juniornya agar para junior bisa memberikan rasa hormat. Padahal untuk untuk menciptakan kharisma seorang senior yang dihormati tidak perlu menggunakan kekerasan, tetapi tunjukkanlah prestasi baik akademik ataupun non-akademik karena dengan berjalannya waktu, para mahasiswa baru akan mencari para seniornya yang memiliki prestasi untuk dijadikan ‘panutan’ dalam memasuki dunia kampus.
Inovasi kegiatan ospek yang sehat seperti ‘sharing’ masalah-masalah seputar kampus, seminar dengan para mahasiswa berprestasi ataupun tugas membuat makalah dari suatu kasus akan lebih bermakna bagi para mahasiswa baru dan itu akan menumbuhkan nilai-nilai positif untuk kedepan dalam mengarungi dunia perkuliahan. Para mahasiswa baru akan terpecut semangatnya untuk berprestasi dan pentingnya memberikan kontribusi bagi almamaternya. Kegiatan ospek yang inovatif dan sehat dari perploncoan harus perlu dukungan dari banyak pihak, baik dari pihak rektorat/dekanat, dosen, karyawan dan mahasiswa. Disini harus dibangun rasa kepedulian untuk menciptakan kegiatan ospek yang lebih bermakna. Karena selayaknya kampus adalah tempat untuk mencari ilmu, bukan tempat untuk kekerasan dan penindasan. Sangat ironi ketika tempat yang ‘suci’ menjadi ajang untuk pamer kekerasan dan egoisme dari senior. Ini menjadi pertanyaan apakah orang-orang terdidik kelakuannya seperti orang yang tidak terdidik. Tentu tidak etis apabila kita disamakan dengan orang yang tidak terdidik.
Jumlah mahasiswa di Indonesia hanya 2% dari total penduduk Indonesia. Sudah selayaknya mahasiswa yang merupakan calon pemimpin masa depan berprilaku yang mencerminkan seorang pemimpin. Karena itu ospek yang selama ini sering memperlihatkan kekerasan fisik,verbal dan psikis harus diganti dengan ospek yang bervisi humanis yang mencerahkan jiwa dan pikiran mahasiswa baru. Ospek yang selama ini mempertontonkan hegemoni dan arogansi kekuasaan harus diagnti dengan ospek yang lebih memperlihatkan kearifan, kesantunan, keteladanan dan keramahan yang mendidik dan tetap tidak ada pihak yang merasa dirugikan dalam kegiatan ini.  

*Peserta PPSDMS Reg 2 bandung, Manajemen S1-Unpad