This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, 7 October 2012

MASIH PENTINGKAH OSPEK????


MASIH PENTINGKAH OSPEK????
Oleh : Arip Perbawa*

Masih ingatkah kejadian Bullying yang terjadi di SMA Don Bosco yang baru-baru ini???Atau kejadian IPDN pada tahun 2003??? Itu adalah bagian dari masalah yang terjadi ketika proses masa orientasi/pengenalan pada suatu kampus atau sekolah. Pukulan, tendangan atau hukuman-hukuman fisik lainnya  menjadi ketakutan bahkan phobia bagi sebagian calon mahasiswa dalam mengikuti ospek. Opini yang beredar mengenai ospek selama ini sering adalah masa perploncoan untuk memasuki kampus.  Bahkan banyak orang tua dari mahasiswa baru yang meminta untuk ‘dihilangkan’ program ospek dikampus. Karena pada dasarnya ospek sudah dilarang ketika dengan dikeluarkannya SK Dirjen Dikti No.38/DIKTI/Kep 2000. Padahal apabila diamati secara cermat, antara ospek dan perploncoan mempunyai subjek yang berbeda. Ospek akan lebih mengenalkan sistem dunia perkampusan baru bagi mahasiswa baru, sedangkan perploncoan adalah proses yang terjadi dalam ospek itu sendiri, yang lebih identik dengan tindakan kekerasan baik berupa fisik, verbal  ataupun mental. Sehingga Apabila kita lihat, maka yang seharusnya dihilangkan adalah adalah proses perploncoannya itu bukan ospeknya.
Ospek atau orientasi pengenalan kampus merupakan kegiatan rutin yang diselanggarakan oleh pihak kampus yang bertujuan untuk mengenalkan mahasiswa baru pada system kampus, baik itu mengenai peraturan, kondisi dan suasana belajar. Sebenarnya ospek juga membantu mahasiswa baru untuk berinteraksi dengan civitas akademika yang ada dikampusnya, baik itu dosen, karyawan dan mahasiswa. Ketika seorang mahasiswa baru tidak mengikuti ospek, sebenarnya akan mengalami beberapa kerugian. Seperti akan sulit beradaptasi dengan lingkungan kampus, sulit untuk mengembangkan jaringan persahabatan, menganalisa lingkungan yang nyaman bahkan bisa ‘diasingkan’ oleh lingkungannya karena sulit untuk beradaptasi. Oleh karena itu, ospek adalah jalan pembuka bagi mahasiswa baru untuk menganalisa SWOT dirinya terhadap lingkungan kampus baru atau sebaliknya.
Bagi sebagian orang yang mendukung diadakannya ospek, karena merasa bahwa ospek itu berguna bagi mahasiswa baru, tetapi harus ada perubahan dalam wujud nyata dilapangan dan konsep prosesnya dan mengembalikan kembali fungsi awal dan dasar dari diadakannya ospek. Menurut filosofi dan konsepsinya ospek semula dirancang untuk memperkenalkan dan mengadaptasikan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru.
Walaupun pada masa sekarang sudah banyak lembaga mahasiswa di perguruan tinggi yang sudah berikrar untuk menghapuskan unsur perpeloncoan dalam kegiatan ospek, namun dalam implementasinya di lapangan masih banyak ditemukan adanya unsur perpeloncoan yang dilakukan oleh panitia ospek. Bahkan tidak hanya itu kontak fisik yang menjurus ke hilangnya nyawa seseorang pun masih terjadi tiap tahunnya dalam kegiatan ospek. Banyak faktor yang membuat ospek menjadi ajang kekerasan, seperti kurangnya controlling dari pihak rektorat/dekanat, ingin diakuinya eksistensi senior, ajang balas dendam senior, ataupun anggapan sebagai ‘adat turun temurun’ dari tahun-tahun sebelumnya yang harus dilestarikan. Masalah yang terjadi adalah senioritas. Pihak senior merasa bahwa hal-hal seperti tindakan fisik adalah hal yang perlu diberikan kepada juniornya agar para junior bisa memberikan rasa hormat. Padahal untuk untuk menciptakan kharisma seorang senior yang dihormati tidak perlu menggunakan kekerasan, tetapi tunjukkanlah prestasi baik akademik ataupun non-akademik karena dengan berjalannya waktu, para mahasiswa baru akan mencari para seniornya yang memiliki prestasi untuk dijadikan ‘panutan’ dalam memasuki dunia kampus.
Inovasi kegiatan ospek yang sehat seperti ‘sharing’ masalah-masalah seputar kampus, seminar dengan para mahasiswa berprestasi ataupun tugas membuat makalah dari suatu kasus akan lebih bermakna bagi para mahasiswa baru dan itu akan menumbuhkan nilai-nilai positif untuk kedepan dalam mengarungi dunia perkuliahan. Para mahasiswa baru akan terpecut semangatnya untuk berprestasi dan pentingnya memberikan kontribusi bagi almamaternya. Kegiatan ospek yang inovatif dan sehat dari perploncoan harus perlu dukungan dari banyak pihak, baik dari pihak rektorat/dekanat, dosen, karyawan dan mahasiswa. Disini harus dibangun rasa kepedulian untuk menciptakan kegiatan ospek yang lebih bermakna. Karena selayaknya kampus adalah tempat untuk mencari ilmu, bukan tempat untuk kekerasan dan penindasan. Sangat ironi ketika tempat yang ‘suci’ menjadi ajang untuk pamer kekerasan dan egoisme dari senior. Ini menjadi pertanyaan apakah orang-orang terdidik kelakuannya seperti orang yang tidak terdidik. Tentu tidak etis apabila kita disamakan dengan orang yang tidak terdidik.
Jumlah mahasiswa di Indonesia hanya 2% dari total penduduk Indonesia. Sudah selayaknya mahasiswa yang merupakan calon pemimpin masa depan berprilaku yang mencerminkan seorang pemimpin. Karena itu ospek yang selama ini sering memperlihatkan kekerasan fisik,verbal dan psikis harus diganti dengan ospek yang bervisi humanis yang mencerahkan jiwa dan pikiran mahasiswa baru. Ospek yang selama ini mempertontonkan hegemoni dan arogansi kekuasaan harus diagnti dengan ospek yang lebih memperlihatkan kearifan, kesantunan, keteladanan dan keramahan yang mendidik dan tetap tidak ada pihak yang merasa dirugikan dalam kegiatan ini.  

*Peserta PPSDMS Reg 2 bandung, Manajemen S1-Unpad

Wednesday, 18 July 2012

Krisis Uni Eropa

Krisis Uni Eropa
Oleh : Arip Perbawa 120310100029
Sebagaimana kita ketahui bahwa sekarang ini Negara-negara Eropa sedang dilanda bencana krisis keuangan. Negara yang pada satu dasawarasa ke belakang menguasau perekonomian dunia, sekarang ini seperti ‘macan ompong’ yang tidak mempunyai taji. Tingkat economic growth yang hanya rata-rata dibawah 1% kalah dengan beberapa Negara berkembang seperti Cina, India, Brazil dan Rusia bahkan dengan Indonesia. Ini diakibatkan dari krisis perbankan Uni Eropa dan krisis utang yang dialamai Negara Yunani yang hampir saja bangkrut bahkan hancur, apabila tidak ada bantuan dari Negara Eropa lainnya. Disinilah terlihat bahwa kesatuan Negara-negara yang berada diwilayah eropa sangat erat dan kuat. Mereka saling membantu antar satu Negara dengan Negara yang lainnya, subsidi silang dana pun terjadi. Berbeda dengan Negara-negara di Asia dan Timur Tengahm yang mana walaupun sebagian besar penduduknya adalah muslim namun rasa kebersamaan untuk membantu antar Negara yang satu dengan yang lainnya tidak nampak, malah yang terlihat adalah posisi saling sikut-menyikut dan ingin menjatuhkan.
Pada tahun 2007, sebenarnya perekonomian terkena krisis yang berdampak dari krisis ekonomi Amerika Serikat. Sejak saat itu sampai sekarang uni eropa belum bisa bangkit sepenuhnya dari krisis tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa krisis dari Negara Yunani ternyata memberikan dampak negative terhadap Negara-negara lainnya, ada Portugal, Perancis, Italia, irlandia bahkan Negara ekonomi terkuat seperti Jerman pun ikut kena imbasnya. Mereka mencari bantuan dari IMF untuk memberikan kucuran dana bail out sebesar €110 milyar untuk Yunani, €85 milyar untuk Irlandia,dan €78 milyar untuk Portugal. Ini menjadi pukulan yang telak bagi Negara Uni Eropa yang terkenal dengan hegemoni kekutan ekonomi abad 20 dan 21 ini.
Ini menjadi pertanyaan mendasar bahwa bagaimana mungkin Negara-negara yang berada di bawah naungan Uni Eropa yang terkenal dengan hegemoni ekonominya yang kuat bisa terkena Krisis ekonomi sebesar ini. Yunani kemungkinan merupakan buah dari kesalahan kebijakan pemerintahan di masalalu. Pada tahun 1974, Yunani memasuki babak baru pemerintahan, dari junta militer menjadi sosialis. Pemerintah baru ini kemudian mengambil banyak utang untuk membiayai subsidi, dana pensiun, gaji PNS, dll. Utang tersebut terus sajamenumpuk hingga pada tahun 1993, posisi utang Yunani sudah diatas GDP-nya, dansampai sekarang pun masih demikian. Saat ini utang Yunani diperkirakan telah mencapai 120% dari posisi GDP-nya, dimana banyak analis yang memperkirakan bahwa data yang sesungguhnya kemungkinan lebih besar dari itu.
Hingga awal  tahun 2000-an, tidak ada seorang pun yang memperhatikan fakta bahwa utang Yunani  sudah terlalu besar. Malah dari tahun 2000 hingga 2007, Yunani mencatat pertumbuhan ekonomi hingga 4.2% per tahun, yang merupakan angka tertinggi di zona Eropa, hasil dari membanjirnya modal asing ke negara tersebut. Keadaan berbalik ketika pasca krisis global 2008 dimana negara-negara lain mulai bangkit dari resesi, dua dari sektor ekonomi utama Yunani yaitu sektor pariwisata dan perkapalan, justru mencatat penurunan pendapatan hingga 15%. Orang-orang punmulai sadar bahwa mungkin ada yang salah dengan perekonomian Yunani.
Keadaan semakin memburuk ketika pada awal tahun 2010, diketahuibahwa Pemerintah Yunani telah membayar Goldman Sachs dan beberapa bank investasilainnya, untuk mengatur transaksi yang dapat menyembunyikan angka sesungguhnya dari jumlah utang pemerintah. Pemerintah Yunani juga diketahui telah mengutak-atik data-data statistik ekonomi makro, sehingga kondisi perekonomian mereka tampak baik-baik saja, padahal tidak. Pada Mei 2010, Yunani sekali lagi ketahuan telah mengalami defisit hingga 13.6%. Salah satu penyebab utama dari defisit tersebut adalah banyaknya kasus penggelapan pajak, yang diperkirakan telahmerugikan negara hingga US$ 20 milyar per tahun.
Dampak krisis uni eropa ini tidak sedikit berpengaruh terhadap Negara-negara lain yang berada belahan dunia yang lainnya. Termasuk Indonesia, ini terjadi walaupun tidak terlalu parah yaitu terhadap IHSG yang ketika itu anjlok besar-besaran dari posisi 2,971 ke posisi 2,514. Tetapi secara keseluruhan perekonomian Indonesia sampai saat ini masih “aman”, tingkat pertumbuhan ekonomi pun berada di 6,3% menurut Bank Indonesia. Kondisi ini pun harus tetap dijaga, pasar dalam negeri daya belinya harus ditingkatkan dan melakukan ekspansi ekspor ke Negara-negara yang belum terjamah seperti Amerika Latin. Kesempatan untuk menjadi kekuatan baru ekonomi dunia bagi Indonesia terbuka lebar. Pemerintah dan masyarakat harus melihat peluang ini  dan kita tetap harus optimis bahwa Indonesia bisa bangkit. 

Friday, 8 June 2012

KESIAPAN MASYARAKAT INDONESIA MENUJU MASYARAKAT EKONOMI ASEAN 2015

KESIAPAN MASYARAKAT INDONESIA MENUJU MASYARAKAT EKONOMI ASEAN 2015


Indonesia adalah salahsatu Negara terbesar populasinya yang ada di kawasan ASEAN. Masyarakat Indonesia adalah Negara Heterogen dengn berbagai jenis suku, bahasa dan adat istiadat yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Indonesia mempunyai kekuatan ekonomi yang cukup bagus, pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia (4,5%) setelah RRT dan India. Ini akan menjadi modal yang penting untuk mempersiapkan masyarakat Indonesia menuju AEC tahun 2015.
Sebagai salah satu dari tiga pilar utama ASEAN Community 2015, ASEAN Economic Community yang dibentuk dengan misi menjadikan perekonomian di ASEAN menjadi lebih baik serta mampu bersaing dengan Negara-negara yang perekonomiannya lebih maju dibandingkan dengan kondisi Negara ASEAN saat ini. Selain itu juga dengan terwujudnya ASEAN Community yang dimana di dalamnya terdapat AEC, dapat menjadikan posisi ASEAN menjadi lebih strategis di kancah Internasional, kami mengharapkan dengan  dengan terwujudnya komunitas masyarakat ekonomi ASEAN ini dapat membuka mata semua pihak, sehingga terjadi suatu dialog antar sektor yang dimana nantinya juga saling melengkapi diantara para stakeholder sektor ekonomi di Negara-negara ASEAN ini sangat penting.  Misalnya untuk infrastruktur, jika kita berbicara tentang infrastruktur mungkin Indonesia masih sangat dinilai kurang, baik itu berupa jalan raya, bandara, pelabuhan, dan lain sebagainya. Dalam hal ini kita dapat memperoleh manfaat dari saling tukar pengalaman dengan anggota ASEAN lainnya.
Jika dilihat dari sisi demografi Sumber Daya Manusia-nya, Indonesia dalam menghadapi ASEAN Economic Community ini sebenarnya merupakan salah satu Negara yang produktif. Jika dilihat dari faktor usia, sebagian besar penduduk Indonesia atau sekitar 70% nya merupakan usia produktif. Jika kita lihat pada sisi ketenaga kerjaan kita memiliki 110 juta tenaga kerja (data BPS, tahun 2007), namun apakah sekarang ini kita utilize dengan tenaga kerja kita yang berjumlah sekitar 110 juta itu.
Untuk itu kita harus mampu meningkatkan kepercayaan diri bahwa sebetulnya apabila kita memiliki kekuatan untuk bisa bangkit dan terus menjaga kesinambungan stabilitas ekonomi kita yang sejak awal pemerintahan Presiden Susilo Bamabang Yudhoyono ini terus meningkat, angka kemiskinan dapat ditekan seminim mungkin, dan progres dalam bidang ekonomi lainnya pun mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Dengan hal tersebut banyak sekali yang bisa kita wujudkan terutama dengan merealisasikan ASEAN Economy Community 2015 nanti. Menurut kami stabilitas ekonomi Indonesia yang kondusif ini merupakan sebuah opportunity dimana Indonesia akan menjadi sebuah kekuatan tersendiri, apalagi dengan sumber daya alam yang begitu besar, maka akan sangat tidak masuk akal apabila kita tidak bisa berbuat sesuatu dengan hal tersebut.
Melihat kondisi ekonomi Indonesia yang stabil dan mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun belakangan ini, saya menyimpulkan bahwa mengenai kesiapan Indonesia dalam menyongsong ASEAN Economic Community, bisa dikatakan siap, dapat dilihat dari keseriusan pemerintah dalam menangani berbagai masalah pada bidang ekonomi baik itu masalah dalam negeri ataupun luar negeri.
Selain itu, posisi Indonesia sebagai Chair dalam ASEAN pada tahun 2011 ini berdampak sangat baik untuk menyongsong terealisasinya ASEAN Economic Community. Dari dalam negeri sendiri Indonesia telah berusaha untuk mengurangi kesenjangan ekonomi Kesenjangan antara pemerintah pusat dengan daerah lalu mengurangi kesenjangan antara pengusaha besar dengan UKM dan peningkatan dalam beberapa sektor yang mungkin masih harus didorong untuk meningkatkan daya saing.
Berkaca pada salah satu statement ASEAN Community bahwa “Masyarakat ASEAN 2015 adalah Warga ASEAN yang cukup sandang pangan, cukup lapangan pekerjaan, pengangguran kecil tingkat kemiskinan berkurang melalui upaya penanggulangan kemiskinan yang kongkrit.” Pemerintah Indonesia sampai dengan pada saat ini terus berusaha untuk mewujudkan masyarakat Indonesia itu sendiri makmur dan berkecukupan sebelum memasuki AEC kelak.
ASEAN pada awalnya hanyalah sebuah organisasi regional yang bentuk kerjasamanya loose atau tidak longgar, namun dengan adanya ASEAN Charter maka Negara-negara ASEAN ini membentuk suatu masyarakat ASEAN yang mempunyai tiga pilar utama yaitu, ASEAN Economic Community, ASEAN Security Community, ASEAN Socio-Cultural Community dengan tujuan terciptanya stabilitas, perdamaian dan kemakmuran bersama di kawasan. Pada awalnya ASEAN Community ini akan diwujudkan pada tahun 2020, namun di percepat menjadi tahun 2015 yang mana tinggal 5 tahun lagi.
ASEAN Economic Community (AEC) sebenarnya merupakan bentuk integrasi ekonomi yang sangat potensial di kawasan maupun dunia. Barang, jasa, modal dan investasi akan bergerak bebas di kawasan ini. Integrasi ekonomi regional memang suatu kecenderungan dan keharusan di era global saat ini. Hal ini menyiratkan aspek persaingan yang menyodorkan peluang sekaligus tantangan bagi semua negara. Skema AEC 2015 tentang ketenagakerjaan, misalnya, memberlakukan liberalisasi tenaga kerja profesional papan atas, seperti dokter, insinyur, akuntan dsb. Celakanya tenaga kerja kasar yang merupakan “kekuatan” Indonesia tidak termasuk dalam program liberalisasi ini. Justru tenaga kerja informal yang selama ini merupakan sumber devisa non-migas yang cukup potensional bagi Indonesia, cenderung dibatasi pergerakannya di era AEC 2015.
Ada tiga indikator untuk meraba posisi Indonesia dalam AEC 2015. Pertama, pangsa ekspor Indonesia ke negara-negara utama ASEAN (Malaysia, Singapura, Thailand, Pilipina) cukup besar yaitu 13.9% (2005) dari total ekspor. Dua indikator lainnya bisa menjadi penghambat yaitu menurut penilaian beberapa institusi keuangan internasional - daya saing ekonomi Indonesia jauh lebih rendah ketimbang Singapura, Malaysia dan Thailand. Percepatan investasi di Indonesia tertinggal bila dibanding dengan negara ASEAN lainnya. Namun kekayaan sumber alam Indonesia yang tidak ada duanya di kawasan, merupakan local-advantage yang tetap menjadi daya tarik kuat, di samping jumlah penduduknya terbesar yang dapat menyediakan tenaga kerja murah.
Sisa krisis ekonomi 1998 yang belum juga hilang dari bumi pertiwi, masih berdampak rendahnya pertumbuhan investasi baru (khususnya arus Foreign Direct Investment) atau semakin merosotnya kepercayaan dunia usaha, yang pada gilirannya menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Hal tersebut karena buruknya infrastruktur ekonomi, instabilitas makro-ekonomi, ketidakpastian hukum dan kebijakan, ekonomi biaya tinggi dan lain-lain. Pemerintah tidak bisa menunda lagi untuk segera berbenah diri, jika tidak ingin menjadi sekedar pelengkap di AEC 2015. Keberhasilan tersebut harus didukung oleh komponen-komponen lain di dalam negeri. Masyarakat bisnis Indonesia diharapkan mengikuti gerak, irama kegiatan diplomasi dan memanfaatkan peluang yang sudah terbentuk ini. Diplomasi Indonesia tidak mungkin harus menunggu kesiapan di dalam negeri. Peluang yang sudah terbuka ini, kalau tidak segera dimanfaatkan, kita akan tertinggal, karena proses ini juga diikuti gerak negara lain dan hal itu terus bergulir. Kita harus segera berbenah diri untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia Indonesia yang kompetitif dan berkulitas global. Menuju tahun 2015 tidaklah lama, Sudah siapkah kita akan Tantangan dan peluang bagi kalangan profesional muda kita/mahasiswa untuk tidak terbengong-bengong menyaksikan lalu-lalang tenaga asing di wilayah kita?.
Tantangan Indonesia kedepan adalah mewujudkan perubahan yang berarti bagi kehidupan keseharian masyarakatnya. Semoga seluruh masyarakat Indonesia kita ini bisa membantu untuk mewujudkan kehidupan ekonomi dan sosial yang layak agar kita bisa segera mewujudkan masyarakat ekonomi ASEAN tahun 2015.

Friday, 11 May 2012





Sukses Hidup Bagian 1 :
Mengatur Waktu dengan tepat dan proporsional
“Detik berubah menit, menit berubah jam, jam berubah hari, hari berubah minggu, minggu berubah bulan, bulan berubah tahun, tahun berubah abad”…..
“waktu sedetikpun tidak akan kembali, maka pergunakanlah sebaik-baiknya’

Monday, 7 May 2012

Quo Vadis Tata Kelola Energi Nasional

QUO VADIS TATA KELOLA ENERGI NASIONAL
Oleh : Arip Perbawa 120310100029
Energy adalah suatu yang penting dalam kehidupan manusia. Manusia hidup karena adanya energy. Aktivitas yang manusia lakukan setiap hari, mulai dari berfikir, olahraga,bekerja dan jalan kaki membutuhkan energy. Energy adalah penggerak kehidupan manusia dan kita tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

Thursday, 19 April 2012

Fenomena Kampus : Persiapan Ujian system SKS (system kebut semalam) BAG 1


Fenomena Kampus : Persiapan Ujian system SKS (system kebut semalam)
BAG 1
Sepertinya kita sudah tidak asing lagi mendengar SKS. Ya bagi mahasiswa SKS ada dua arti alias bermakna ganda. Pengertian pertama SKS adalah system kredit semester. Dengan system ini para mahasiswa di beri kebebasan utk memilih mata kuliah yang akan diambil dalam satu semester.  Dalam SKS sendiri  terdapat beberapa penjabaran bagi seorang mahasiswa dan dosen (kutipan : http://walangkopo99.blogspot.com/2012/01/pengertian-sks-satuan-kredit-semester.html).
1.       Sebagai ukuran beban studi mahasiswa
2.       Sebagai ukuran penyelenggaraan pendidikan bagi tenaga pengajar
3.       Sebagai besarnya usaha untuk belajar selama satu semester
4.       Sebagai pengakuan keberhasilan mahasiswa menempuh suatu mata kuliah.
Nah itulah penjelasan tentang SKS pengertian yang pertama.
Pengertian SKS yang selanjutnya adalah system kebut semalam. Ini menyangkut cara belajar, dan kebiasaan belajar dari seorang pelajar/mahasiswa. Tidak dapat dipungkiri bahwa Sistem belajar SKS cukup ampuh untuk melawan Ujian baik Quiz,UTS maupun UAS. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah layak seorang pembelajar yang baik menggunakan system SKS?? Apakah ilmunya akan berguna dalam jangka waktu yang lama??
Penulis sendiri memang sering melakukan system SKS dalam menghadapi Quiz,UTS dan UAS. Karena memang itu cukup efektif dan efisien. Juga system SKS membantu untuk memahami materi yang akan di ujikan.  Tetapi dalam jangka waktu lama, ilmu yang setelah diujikan itu mendadak hilang ditelan zaman. Dalam jangka waktu lama, memang otak tidak mampu mengingat pelajaran yang lalu-lalu, paling banter hasil dari SKS kuat untuk 2 mingguan.
To be Continued……………..

Tuesday, 10 April 2012

Pembuatan Jurnal Ilmiah Sebagai Syarat Kelulusan Mahasiswa, Why Not????

 Pembuatan Jurnal Ilmiah Sebagai Syarat Kelulusan Mahasiswa, Why not???
Oleh : Arip Perbawa
Baru-baru ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengelurakan surat edaran Nomor: 152/E/T/2012, yang berisi tentang persyaratan kelulusan bagi pembelajar program strata. Untuk S-1 dengan ketentuan menghasilkan makalah yang diterbitkan di jurnal ilmiah, S-2 pada jurnal ilmiah nasional yang terakreditasi Dikti, serta S-3 pada jurnal internasional. Surat edaran ini menjadi sebuah dilema bagi dunia pendidikan di Indonesia. Salahsatu pihak yang terang-terangan menolak adalah Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI). Sedangkan di pihak lain seperti PTN-PTN yang sukup terkenal menyetujui dan mendukung adanya pembuatan jurnal ilmiah bagi kelulusan mahasiswa, salahsatunya Universitas Padjadjaran.
Menurut penulis, pembuatan jurnal ilmiah ini sebenarnya menjadi dilema karena di satu sisi ini akan memberikan dampak positif bagi mahasiswa agar terbiasa menulis dan membuat tulisan ilmiah agar bisa bersaing dengan mahasiswa lain di luar negeri. Kebiasaan menulis mahasiswa di Indonesia masih tergolong rendah karena menurut Andryan, SH. sampai bulan Mei 2011 tercatat lebih dari 7.000 jurnal ilmiah yang diterbitkan dan kurang dari 4.000 jurnal yang secara kontinyu mengirimkan terbitannnya ke PDII-LIPI. jurnal yang saat ini dapat diakses yaitu 5.100 jurnal baik dari Perguruan Tinggi maupun Lembaga Penelitian dengan lebih dari 67.000 artikel dan 38.000 dapat diakses secara lengkap. Sedangkan hingga saat ini jumlah perguruan tinggi negeri (PTN) saja telah mencapai 83 dari total 2.975 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Kamudian, setiap tahunnya negeri kita menghasilkan lulusan perguruan tinggi mencapai ratusan ribu lulusan. Ini menjadi sorotan bagi dunia pendidikan Indonesia. Makanya tidak jarang banyak lulusan S1 di Indonesia yang tidak mampu bersaing bahkan kemampuannya pun dipertanyakan. Tidak jarang para mahasiswa ini, agar bisa lulus mereka melakukan kegiatan plagiat alias copy paste dari karya ilmiah orang lain. Sedangkan dalam dunia pendidikan kegiatan plagiatisme adalah hal tabu yang tidak boleh dilakukan oleh kalangan akademik. Dikti mungkin berharap dengan adanya pembuatan jurnal ilmiah bagi kelulusan mahasiswa ini bisa mendorong dan menjadi acuan motivasi agar mahasiswa terbiasa membuat karya ilmiah.
Di sisi lain terdapat dampak negative yaitu dampak waktu kelulusan. Dengan adanya pembuatan jurnal ilmiah ini akan menambah ‘beban’ bagi mahasiswa yang tidak terbiasa membuat tulisan ilmiah. Membuat skripsi saja sudah membuat ‘mati kutu’ apalagi ditambah dengan jurnal ilmiah bisa capeknya setengah mati. Sehingga waktu untuk lulus 3,5 – 4 tahun akan menjadi lebih lama lagi. Ini akan menjadi tekanan mental tersendiri bagi mahasiswa. Tidak setiap PTN/PTS di Indonesia memiliki media penerbitan jurnal ilmiah. Ini juga menjadi masalah. Selain itu terdapat juga perbedaan kemampuan/skill mahasiswa di PTN/PTS. Tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan menulis yang baik dan benar. Karena setiap manusia pada hakikatnya memiliki kemampuan yang berbeda. Ada yang jago menulis, berolahraga, main musik, dan sebagainya. Apakah ini sudah dipertimbangkan???
 Kita lihat juga para pengajar/dosen di PTN/PTS apakah mereka terbiasa menulis ilmiah?? Apabila dosennya saja tidak terbiasa dengan tulisan ilmiah bagaimana dengan peserta didik /mahasiswa-nya? kan ada pepatah, Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Jadi harus dipersiapkan juga tenaga pendidik yang mampu memotivasi/mendorong, memberi contoh dan mengajarkan cara membuat jurnal ilmiah yang baik dan benar. Jangan sampai ini menjadi boomerang bagi system pendidikan kita. Mahasiswa membuat jurnal ilmiah tapi tidak mampu mempertanggung jawabkan secara sosial bahkan tidak mempunyai kegunaan bagi masyarakat.
Sebenarnya apabila kita berfikir positif, tidak menjadi masalah dengan adanya pembuatan jurnal ilmiah bagi kelulusan mahasiswa. Ini akan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi mahasiswa. Bagi yang terbiasa membuat karya ilmiah, ini menjadi dorongan agar terus mengasah dan membuat karya ilmiah yang lebih baik lagi. Sedangkan bagi mahasiswa yang belum terbiasa dengan karya ilmiah, ini menjadi peluang untuk terus belajar sehingga mampu membuat karya ilmiah. Kemampuan menulis pun akan lebih baik. Tidak ada kata sulit dalam belajar, asalkan kita mau berusaha dengan cerdas dan keras. Ingat, ketika ada kemauan maka disana ada jalan untuk sukses.
            Ini akan menjadi penilaian juga tolok ukur akan kemampuan mahasiswa terutama S1,S2 dan S3 apakah hasil belajar dari perkuliahan berhasil atau sebaliknya?? Jangan sampai kita lulus hanya sebatas lulus tanpa memiliki kemampuan yang mumpuni untuk terjun ke dunia kerja ataupun ke masyarakat. Begitu juga dengan titel yang kita miliki setelah kita lulus dari S1, S2, dan S3. Jangan hanya sebatas titel dan kebanggaan tapi jadikan itu semua sebagai pertanggung jawaban terhadap tingkat intelektualitas kita sebagai kaum terdidik.
            Kembali ke permasalahan pembuatan jurnal ilmiah, sebagaimana penulis katakana diatas bahwa kemampuan menulis karya ilmiah mahasiswa Indonesia masih tergolong rendah. Tapi, ada satu jalan keluar untuk melawan masalah tersebut adalah adanya kemauan yang kuat disertai dengan kemampuan yang mumpuni. Jangan hanya kemauan saja, karena akan sia-sia apabila kita hanya membuat jurnal ilmiah yang tidak tersturuktur dan tidak punya dasar ilmunya, juga harus disertai dengan kemampuan akan  cara penulisan dan ilmu yang mendasari pembuatan jurnal ilmiah. Begitu juga jangan hanya kemampuan saja, karena apabila kita punya kemampuan untuk membuat jurnal ilmiah tapi tidak mempunyai kemauan yang kuat maka kita pembuatan jurnal ilmiah itu tidak akan beres. Jadi perlu perpaduan kemauan disertai kemampuan.
Dalam pembuatan jurnal ilmiah ada satu hal yang harus diperhatikan yaitu proses pembuatan jurnal ilmiah itu sendiri. Terkadang mahasiswa melihat hanya hasil dari penulisan jurnal ilmiah tersebut. Jangan sampai terburu-buru dalam pembuatan jurnal ilmiah ini, sehingga hasilnya pun akan ala-kadarnya dan segala cara akan ditempuh demi hasil terbaik, baik cara dengan cara plagiat ataupun dibuatkan oleh orang lain. Hal ini yang harus kita hindari. Kita harus mencoba untuk membuat sendiri, sehingga kita tahu sejauh mana kemampuan penulisan jurnal ilmiah kita. Nikmati proses pembuatannya, karena dengan kita menikmati proses kita akan merasa senang mengerjakannya. Tidak terburu-buru tapi kita fokus dan manage waktunya dengan baik. Dengan begitu, ketika proses pembuatannya dilakuakan dengan cara yang terbaik maka hasilnya pun akan mendapatkan yang terbaik. Ini adalah hukum alam. Karena Tuhan juga melihat pekerjaan itu bukan dari hasilnya tetapi dari prosesnya.
Banyak cara agar kita terbiasa dengan kegiatan menulis jurnal ilmiah. Salahsatu contohnya adalah kita membuat tulisan di blog. Kita tuangkan ide-ide brilian kita pada blog/website yang kita buat. Kita ambil tema-tema dari permasalahan yang sedang terjadi misalnya masalah pro-kontra kenaikan BBM. Kita gunakan bahasa sendiri untuk membahas isu tersebut. Ingat, jangan sampai plagiat juga. Walaupun pada awalnya agak sulit tapi dengan kita terbiasa maka akan menjadi mudah. Pepatah mengatakan, bisa karena terbiasa. Ayo jangan sampai kita down duluan ketika harus membuat jurnal ilmiah. Kita buktikan bahwa mahasiswa adalah actor perubahan yang memiliki tingkat inteletual tinggi. ©AP 2012